LEBAK -Persoalan air bersih mulai menjadi masalah serius di Kabupaten Lebak.
Data BPBD mencatat 42.056 jiwa atau 25.729 keluarga di 30 desa pada 11 kecamatan terdampak kekeringan.
Di tengah kebutuhan yang terus meningkat, kemampuan distribusi pemerintah masih terbatas.
BPBD Kabupaten Lebak saat ini hanya mengoperasikan dua mobil tangki untuk melayani permintaan air dari berbagai wilayah.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Lebak, Suhada, mengatakan kondisi tersebut membuat penyaluran bantuan harus dilakukan secara bergiliran.
“Armada kami hanya dua. Jadi, yang kami prioritaskan adalah desa yang lebih dahulu memberikan rekomendasi atau usulan kebutuhan air,” kata Suhada, Selasa (11/8/2026).
Hingga saat ini, BPBD mencatat 231.000 liter air bersih telah disalurkan ke sejumlah wilayah.
Namun, distribusi tersebut belum mencakup seluruh desa yang masuk dalam daftar terdampak.
Suhada mengatakan kebutuhan setiap wilayah berbeda sehingga volume bantuan tidak dipukul rata.
“Tidak semua desa kebutuhannya sama. Jadi jumlah air yang dikirim menyesuaikan permintaan dan kondisi di lokasi,” ujarnya.
Sejumlah wilayah yang terdampak antara lain Sajira, Curugbitung, Wanasalam, Cilograng, Warunggunung, Cimarga, Leuwidamar, Rangkasbitung, Cirinten, Gunungkencana dan Cihara.
BPBD juga menggandeng sejumlah pihak untuk memperluas jangkauan distribusi, di antaranya Tagana, PMI, BBWS untuk wilayah selatan serta pihak perusahaan.
“Kalau hanya mengandalkan BPBD, kebutuhan masyarakat tidak akan terpenuhi,” kata Suhada.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih di Lebak tidak hanya membutuhkan distribusi cepat, tetapi juga dukungan armada dan kolaborasi lintas pihak selama kemarau masih berlangsung. (*/sahrul)