Mahasiswa Gelar Pengabdian di Sobang, Ketua PKK Lebak Dorong Generasi Muda Peduli Pendidikan dan Kesehatan

LEBAK– Gerakan pengabdian mahasiswa di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, menjadi ruang bertukar gagasan antara mahasiswa dan masyarakat.

Kegiatan tersebut tidak hanya berisi aktivitas sosial, tetapi juga membahas sejumlah persoalan yang dekat dengan kehidupan warga, mulai dari pendidikan, kesehatan, stunting, pertanian hingga pemberdayaan pemuda.

Kegiatan bertema “Aktualisasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui Gerakan Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat untuk Sobang yang Maju” itu berlangsung selama enam hari, Senin-Sabtu, 14-19 September 2026, dengan salah satu lokasi kegiatan di Kampung Cibama Pasir, Desa Cirompang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak.

Ketua TP PKK Lebak, Ny. Belia Asyidiki Jayabaya, mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian tersebut.

Menurutnya, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat menjadi kesempatan untuk belajar bersama sekaligus mendengarkan langsung berbagai kebutuhan warga.

“Ini pertama kali mahasiswa melakukan kegiatan seperti ini di sini. Saya mengapresiasi karena mahasiswa bisa turun langsung, melihat kondisi masyarakat dan ikut memberikan edukasi,” ujar Belia.

Dalam kesempatan itu, Belia mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar menjauhi berbagai aktivitas yang dapat merugikan masa depan, termasuk politik uang dan judi online.

Ia menilai pendidikan dan lingkungan yang sehat menjadi bagian penting dalam mempersiapkan anak-anak menghadapi masa depan.

“Jauhi politik uang, jauhi judi online. Anak-anak kita harus diarahkan kepada kegiatan yang positif dan pendidikan,” katanya.

Persoalan kesehatan juga menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut. Belia menyampaikan pentingnya masyarakat mendapatkan informasi yang benar mengenai pelayanan kesehatan, termasuk keberadaan layanan di puskesmas.

Ia menegaskan bahwa ketika masyarakat membutuhkan pertolongan medis, warga sebaiknya segera memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia sesuai dengan kondisi dan jenis layanan yang dibutuhkan.

Terkait aspirasi masyarakat mengenai pengembangan fasilitas kesehatan di wilayah Sobang, Belia menyebut bangunan yang telah tersedia diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pelayanan kesehatan, termasuk apabila nantinya memenuhi persyaratan sebagai fasilitas rawat inap.

“Harapannya, bangunan yang sudah dibangun bisa dimanfaatkan sebaik mungkin.Mudah-mudahan Pak Sekdis Kesehatan juga bisa segera mengurus prosesnya sehingga ke depan pelayanan rawat inap dapat semakin baik,” tuturnya.

Belia juga mengingatkan bahwa persoalan pelayanan kesehatan perlu dilihat secara utuh. Kebutuhan pasien dan kapasitas pelayanan harus disesuaikan dengan kemampuan fasilitas kesehatan serta ketentuan yang berlaku.

Ia turut menyampaikan bahwa kebutuhan seperti susu untuk pasien juga telah tersedia di rumah sakit sesuai pelayanan yang diberikan.

Pesan mengenai pendidikan menjadi bagian lain yang disampaikan Belia kepada masyarakat.

Ia menceritakan pengalaman masa lalu ketika dirinya harus berjuang membantu keluarga melalui aktivitas berdagang.

Menurutnya, keterbatasan ekonomi tidak semestinya menjadi alasan bagi anak-anak untuk berhenti mengejar pendidikan.

“Dulu saya juga tidak gengsi. Pernah dagang pastel waktu sekolah. Dulu zaman SMP,” ujarnya sambil mengenang masa lalu.

Bagi Belia, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan kecil yang dilakukan dengan tekun dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju masa depan yang lebih baik.

“Jangan pernah menyerah kepada keadaan. Kalau dulu tidak berdagang, mungkin saya tidak bisa sekolah dan juga tidak bisa jajan. Sekarang kesempatan pendidikan sudah semakin terbuka, termasuk adanya program sekolah untuk masyarakat yaitu sekolah rakyat,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya mencegah anak putus sekolah.

Menurutnya, jika seorang anak menghadapi kesulitan dalam melanjutkan pendidikan, masyarakat dan lingkungan sekitar perlu ikut membantu mencari solusi, termasuk melalui jalur pendidikan kesetaraan apabila diperlukan.

Selama kegiatan pengabdian, mahasiswa juga mengagendakan sejumlah kegiatan edukasi dan saresehan bersama masyarakat.

Materi yang dibahas antara lain pencegahan stunting, kesehatan masyarakat, penyakit menular dan tidak menular, pendidikan, pertanian serta persoalan sosial yang berkembang di lingkungan warga.

Puskesmas Kecamatan Sobang dilibatkan dalam pembahasan mengenai kesehatan masyarakat. Sementara itu, Balai Penyuluhan Pertanian memberikan edukasi yang berkaitan dengan sektor pertanian.

Persoalan penyalahgunaan obat-obatan terlarang juga menjadi bagian dari edukasi dengan melibatkan unsur kepolisian melalui Polsek Sobang.

Selain itu, mahasiswa mengajak masyarakat berdiskusi mengenai pencegahan pernikahan dini dan pentingnya mempersiapkan masa depan generasi muda.

Kegiatan saresehan dijadwalkan berlangsung pada Jumat sebagai salah satu sarana memperkuat komunikasi antara mahasiswa dan masyarakat.

Sejumlah aspirasi masyarakat juga menjadi perhatian selama kegiatan, antara lain mengenai kondisi jalan, pelayanan kesehatan, keberadaan rumah yang membutuhkan perhatian serta kebutuhan pemberdayaan masyarakat.

Menanggapi keluhan mengenai kondisi jalan yang masih menjadi perhatian warga, Belia mengatakan pemerintah terus berupaya menangani berbagai kebutuhan infrastruktur sesuai dengan kemampuan dan tahapan yang ada.

“Kami pemerintah sedang berupaya semaksimal mungkin. Semua aspirasi masyarakat tentu menjadi perhatian, termasuk persoalan jalan. Mudah-mudahan secara bertahap bisa ditangani sesuai dengan kemampuan dan program pemerintah,” ujar Belia.

“Bahkan anggaran belanja snack sebesar 3,1 miliar dipangkas oleh pemerintah, demi membangun jalan,” timpalnya.

Menurutnya, penyelesaian persoalan infrastruktur membutuhkan proses dan koordinasi dengan berbagai pihak.

Karena itu, masyarakat diharapkan tetap menyampaikan kondisi di lapangan melalui saluran yang tepat agar dapat menjadi bahan perhatian dan evaluasi pemerintah.

Belia juga mengajak masyarakat membangun komunikasi dengan pihak-pihak yang dapat membantu menyampaikan aspirasi tersebut.

“Kalau ada kesulitan, jangan dipendam sendiri. Bisa berkomunikasi dengan pemuda di Sobang dan pihak-pihak yang memang bisa membantu,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan mahasiswa di desa sebaiknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Pengabdian diharapkan dapat menjadi proses belajar bersama dan menghasilkan gagasan yang bisa dilanjutkan setelah mahasiswa kembali ke kampus.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan persiapan posko, kegiatan sosial, edukasi masyarakat dan perlombaan untuk anak-anak.

Pada hari terakhir, kegiatan akan difokuskan pada perlombaan anak-anak. Sementara pada malam harinya direncanakan pemutaran dokumenter yang merangkum aktivitas pengabdian selama satu pekan.

Kegiatan tersebut melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Untirta, Uniba, Setia Budhi, La Tansa Mashiro, serta sejumlah unsur mahasiswa lainnya.

Sementara itu, Ketua Pergerakan Mahasiswa Sobang, Sifa, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa mengaktualisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian secara langsung kepada masyarakat.

Melalui kegiatan itu, mahasiswa tidak hanya belajar mengenai kondisi masyarakat, tetapi juga diharapkan mampu ikut mendorong munculnya kesadaran dan partisipasi warga dalam menyelesaikan berbagai persoalan di lingkungannya.

Dengan pendekatan tersebut, pengabdian mahasiswa diharapkan dapat menjadi jembatan komunikasi antara generasi muda, masyarakat dan berbagai unsur terkait untuk membangun Sobang secara bertahap dan berkelanjutan. (*/Sahrul).

LebakMahasiswaPKKSobang
Comments (0)
Add Comment