MADINAH – Arus kunjungan jemaah haji dan umrah ke sejumlah destinasi religi di Madinah terus meningkat.
Selain Masjid Nabawi dan Masjid Quba, Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf kini menjadi salah satu lokasi yang banyak dikunjungi karena menawarkan perpaduan antara wisata edukasi, sejarah Islam, dan perkebunan kurma khas Madinah.
Berlokasi di kawasan Hijam Alwali, Madinah, kebun kurma tersebut dikenal sebagai salah satu situs yang memiliki keterkaitan sejarah dengan sahabat Rasulullah SAW, Abdurrahman bin Auf.
Kawasan ini tidak hanya menjadi pusat budidaya kurma, tetapi juga menyimpan sejumlah peninggalan bersejarah yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Di area perkebunan, pengunjung dapat menemukan bangunan tua, tembok bersejarah, serta saluran air tradisional yang masih menjadi bagian dari identitas kawasan tersebut.
Keberadaan infrastruktur lama itu menjadi daya tarik tersendiri bagi jemaah yang ingin melihat secara langsung jejak peradaban Islam yang berkembang di Madinah pada masa lampau.
Pemilik Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf, Hasan Alkiwi, mengatakan sejumlah bagian bersejarah di kawasan tersebut tetap dijaga sebagai bentuk pelestarian warisan Islam.
“Kami mempertahankan jalur air lama dan beberapa struktur yang masih ada sebagai bagian dari sejarah kawasan ini, meskipun untuk kebutuhan perkebunan juga tersedia sistem pengairan yang lebih baru,” ujarnya kepada Fakta Banten, Minggu (21/6/2026).
Selain peninggalan bangunan, kawasan ini juga memiliki sebuah sumur bersejarah yang dikenal sebagai Sumur Abdurrahman bin Auf.
Sumur tersebut hingga kini masih mengalirkan air dan menjadi salah satu titik yang paling banyak dikunjungi para peziarah.
Menurut Hasan, sumur dengan kedalaman sekitar 60 meter itu tetap berfungsi dengan baik dan menjadi sumber air penting bagi area perkebunan.
Kualitas airnya juga masih terjaga sehingga menjadi perhatian banyak pengunjung yang datang ke lokasi tersebut.
Keberadaan sumur tersebut turut memperkuat nilai historis kebun kurma yang selama ini dikenal sebagai bagian dari jejak perjalanan salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang terkenal dalam bidang perdagangan dan kedermawanan.
Dari sisi pertanian, kebun ini mengelola lebih dari 550 pohon kurma produktif yang saat ini memasuki masa panen. Ratusan pohon tersebut terdiri dari berbagai varietas unggulan yang menjadi ciri khas Madinah.
“Lebih dari 550 pohon kurma saat ini dalam kondisi produktif. Sebagian besar telah memasuki musim berbuah dan siap dipanen,” kata Hasan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 350 pohon merupakan kurma Ajwa atau yang dikenal luas sebagai salah satu varietas kurma premium asal Madinah.
Selain Ajwa, perkebunan tersebut juga membudidayakan sejumlah jenis kurma lain seperti Safawi, Rabiah, Ambar, dan Syukari.
Pengelola mengklaim kualitas kurma yang dihasilkan berasal dari kawasan Ajwa Aliyah yang selama ini dikenal sebagai salah satu sentra kurma unggulan di Madinah.
Menariknya, operasional perkebunan juga melibatkan tenaga kerja asal Indonesia. Hasan menyebutkan sekitar 30 warga Indonesia saat ini bekerja di berbagai sektor pengelolaan kebun, mulai dari perawatan tanaman hingga pelayanan bagi pengunjung.
Seiring berkembangnya wisata religi di Arab Saudi, Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf menjadi alternatif tujuan ziarah bagi jemaah yang ingin memperoleh pengalaman berbeda selama berada di Madinah.
Selain melihat proses budidaya kurma secara langsung, pengunjung juga dapat mempelajari sistem pengairan tradisional, mengenal sejarah kawasan, serta membeli kurma langsung dari lokasi produksi.
Untuk menunjang kebutuhan jemaah, kawasan tersebut juga dilengkapi pusat oleh-oleh dan berbagai kuliner yang akrab bagi pengunjung asal Indonesia. Lokasinya yang strategis membuat akses menuju kebun relatif mudah dijangkau.
Dari Masjid Nabawi, perjalanan menuju lokasi hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit menggunakan kendaraan.
Sementara dari Masjid Quba dapat ditempuh sekitar dua menit, dan dari kawasan Bir Ghars sekitar tujuh menit.
Dengan kombinasi nilai sejarah, edukasi, dan wisata religi, Kebun Kurma Abdurrahman bin Auf kini menjadi salah satu destinasi yang semakin diminati jemaah haji dan umrah yang berkunjung ke Kota Madinah.
Kehadiran situs ini memberikan alternatif wisata berbasis sejarah Islam yang tidak hanya memperkenalkan budaya kurma Madinah, tetapi juga memperkaya pemahaman pengunjung terhadap warisan peradaban Islam yang masih terjaga hingga saat ini. (*/Red/MCH-2026)