Kisah Nek Sania yang Berangkat Haji dengan Berhutang, Wamenhaj Dapat Instruksi dari Presiden Prabowo untuk Bantu Melunasi

MADINAH – Kisah haru datang dari jemaah haji yang baru saja pulang dari tanah suci.

Jemaah asal Serdang Bedagai, Sumatera Utara, bernama Nek Sania, janda berusia 72 tahun, ternyata berangkat menunaikan ibadah haji tahun ini dengan berhutang ke banyak pihak.

Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak yang mendengar informasi tersebut langsung mendatangi kediaman nenek tersebut.

Dahnil menceritakan, Nek Sania mendaftar haji sejak 2014 dari uang pemberian anak-anaknya.

Setelah 12 tahun menunggu, panggilan berangkat akhirnya tiba tahun ini. Namun karena keterbatasan ekonomi, ia meminjam ke sana-sini agar bisa tetap berangkat.

“Bagi banyak orang mungkin bertanya, ngapain sampai berhutang? Tapi itulah spirit keberagamaan beliau. Haji bagi Nek Sania adalah puncak penyempurnaan spiritual,” ujar Dahnil saat mengunjungi rumah Nek Sania, Sabtu (20/6/2026).

Nek Sania bekerja sebagai buruh cuci. Penghasilannya pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari.

Demi melunasi biaya pelunasan haji, ia terpaksa harus meminjam ke tetangga dan saudara.

Dahnil menyebut, Kemenhaj bersama Pemda sedang mendata jemaah haji yang kondisinya seperti Nek Sania.

Pendataan dilakukan atas perintah Presiden Prabowo Subianto agar beban hutang jemaah bisa diringankan.

“Ada jemaah yang mampu secara materi, ada yang berusaha dan memampukan diri seperti Nek Sania. Cinta kepada Allah dan Nabinya tidak bisa diukur rasionalitas syariat,” katanya.

“Tujuannya agar bebannya diringankan, agar hutangnya terbayarkan,” sambung Dahnil.

Langkah ini bentuk hadirnya negara untuk jemaah yang cintanya kepada Baitullah melampaui hitungan materi.

Nek Sania pulang membawa predikat haji mabrur, dan insyaAllah beban hutangnya tak lagi dipikul sendiri.

Dahnil mengaku, data Kemenhaj menunjukkan banyak jemaah seperti Nek Sania.

Baginya, terdapat dimensi lain dalam praktik tersebut, spiritualisme khas Indonesia.

“Haji bagi beliau-beliau adalah puncak penyempurnaan spiritualisme. Spiritualisme tidak selalu bisa dimaknai syariat. Banyak yang memaknainya secara hakikat bahkan makrifat,” ujarnya.

Bagi Wamenhaj, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya tak bisa direduksi rasionalitas. Sama seperti cinta manusia yang sering buta, Mahabbah kepada Allah membuat Nek Sania memaksakan diri agar mampu naik haji.

“Ada orang yang mampu naik haji, ada juga yang berusaha dan memampukan diri naik haji sehingga semua upaya halal dilakukan meskipun secara syariat kewajiban mereka telah gugur,” tegasnya.

Kisah Nek Sania jadi pengingat, bahwa di balik data dan regulasi haji, ada air mata, doa, dan pengorbanan yang tak bisa diukur angka. Ada tekad yang tak terbendung, ada asa, demi memenuhi panggilan-Nya. (*/Red/MCH-2026)

Comments (0)
Add Comment