MAKKAH – Kekuatan fisik merupakan modal utama bagi jemaah haji. Sekitar 90 persen rangkaian ibadah memerlukan stamina yang prima. Aktivitas berjalan kaki sejauh 1,6 kilometer sudah menjadi rutinitas.
Namun, tantangan berbeda muncul ketika jarak tersebut harus ditempuh dengan menaiki Jabal Nur, ditambah 1,6 kilometer untuk rute turun.
Meskipun bukan termasuk rukun maupun wajib haji, sejumlah besar jemaah haji Indonesia tetap berupaya mendaki bukit berbatu ini sebagai bentuk napak tilas jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Pendakian ke Gua Hira memiliki dua alternatif jalur. Sekitar 70 persen dari rute awal menyediakan dua pilihan yang berdampingan, jalur kendaraan yang berpasir dan memiliki kemiringan lebih landai, serta tangga batu dengan pagar besi di sisi kiri dan kanan yang lebih curam tetapi waktu tempuhnya lebih singkat.
Jemaah dapat memilih sesuai kemampuan. Jika mengutamakan kenyamanan dan kemiringan yang landai, jalur kendaraan dapat dipilih meskipun jaraknya lebih jauh.
Sebaliknya, jalur tangga batu menawarkan waktu tempuh lebih cepat dengan tantangan tanjakan yang lebih terjal.
Pada Kamis sore, 18 Juni 2026, Tim Media Center Haji 2026 mengamati bahwa mayoritas pendaki memilih jalur tangga, baik saat mendaki maupun turun. Akan tetapi, tidak sedikit jemaah lansia yang memilih jalur kendaraan demi alasan keamanan.
Pendaki berasal dari berbagai kelompok usia, pun pendaki usia muda mendominasi, namun banyak pula jemaah berusia 40 hingga 50 tahun.
Hal yang patut diapresiasi adalah kehadiran jemaah berusia 60 hingga 70 tahun yang berhasil mencapai puncak.
Salah satunya adalah seorang jemaah berusia lebih dari 70 tahun dari Kloter 13 Aceh atau BTJ 13.
Jemaah tersebut memerlukan waktu sekitar 3 jam untuk naik dan 4 jam untuk turun melalui jalur kendaraan. Ia bergerak perlahan dan sering berhenti untuk beristirahat.
“Tidak ada yang dikejar waktunya. Jika naik 3 jam, turun 4 jam, tidak menjadi masalah. Penglihatan sudah berkurang dan sering tersandung. Oleh karena itu saya memilih jalur kendaraan,” ujar lansia yang tak ingin disebutkan namanya saat beristirahat di tangga.
Strategi yang diterapkannya adalah membawa kurma, namun membatasi konsumsi air minum agar tidak sering ke toilet. Motivasinya sederhana.
“Ini merupakan salah satu jejak Rasulullah,” kata dia
Jemaah tersebut telah dua kali menunaikan umrah, yaitu pada tahun 2012 bersama ayahnya dan tahun 2019 bersama istrinya.
Namun, pada kedua kesempatan tersebut, niat untuk mendaki Gua Hira tidak terlaksana karena pihak penyelenggara hanya menunjukkan lokasi gua dari bawah.
Ibadah haji tahun 2026 menjadi kesempatan pertama dan kemungkinan terakhir baginya.
“Rasulullah pernah berada di sini, pada malam Jumat pula. Saya mulai mendaki sekitar pukul 17.21,” tuturnya mantap.
Angin pegunungan pada sore hari bertiup kering dan menerbangkan debu yang langsung mengenai wajah para pendaki.
Jemaah yang turun berjalan perlahan sambil menahan langkah, lutut tampak bergetar tetapi raut wajahnya menunjukkan kelegaan.
Jemaah yang naik bergerak sangat lambat, hampir merayap, dan sesekali berpegangan erat pada pagar besi.
Di setiap tikungan, sejumlah pedagang dari Asia Selatan menawarkan air mineral dan cendera mata. Beberapa di antaranya menawarkan jasa pemasangan sorban dengan tarif 10 riyal Saudi, kemudian langsung mengambil foto.
Petugas di lokasi menyatakan bahwa setiap hari terdapat ribuan peziarah, baik laki-laki maupun perempuan, termasuk anak-anak yang ikut serta bersama orang tuanya.
Kondisi jalur pendakian saat ini telah mengalami perbaikan signifikan. Jalur telah dicor dan tangga dibuat lebih teratur sehingga tidak setajam sebelumnya.
“Jalan menuju Gua Hira cukup baik. Fasilitasnya memadai, seluruhnya telah dicor dan tangganya cukup baik, tidak terlalu tajam. Hal ini memungkinkan pengunjung menikmati wisata napak tilas Nabi Muhammad,” ujar Raihan Arfa Agasta, 22 tahun, jemaah Kloter 26 Embarkasi Yogyakarta.
Bagi Raihan, kegiatan ini merupakan bentuk napak tilas.
“Sebagai umat Nabi Muhammad, kami ingin mengikuti jejak beliau. Dengan mendaki Gua Hira, kami dapat merasakan beratnya perjuangan beliau ketika menerima wahyu pertama,” kata dia.
Umer Farooq, petugas Hisn Association for Serving Pilgrims, Umrah Performers, and Visitors yang telah bertugas selama 10 tahun di Makkah, menyampaikan bahwa pelajaran paling berharga dari pendakian ke Gua Hira adalah mengenai tauhid.
“Pelajaran terbesar dari Gua Hira adalah tentang tauhid. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa datang ke tempat ini ketika berhala-berhala ditempatkan di dalam Ka’bah dan masyarakat menyembah berhala. Beliau tidak menyukai penyembahan berhala, sehingga beliau sering menyendiri di tempat ini,” jelasnya.
Di dalam gua yang sempit tersebut, lima ayat pertama Al-Qur’an, Surah Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5, diturunkan pada tahun 610 Masehi ketika Nabi berusia 40 tahun. Setelah peristiwa tersebut, Nabi tidak pernah kembali lagi ke Gua Hira.
“Jika kita meluangkan waktu 2 sampai 3 jam untuk Gua Hira, berapa banyak waktu yang kita luangkan untuk Al-Qur’an yang kita miliki? Inilah hal yang perlu direnungkan,” tegasnya.
Umer juga meluruskan bahwa tidak terdapat salat khusus di dalam Gua Hira. Nabi Muhammad dan para sahabat tidak pernah mencontohkannya.
Ketika sampai di Gua Hira, jemaah cukup meluruskan niat.
“Nabi tidak menetapkan salat tertentu di tempat seperti ini, sebagaimana salat dua rakaat di Masjid Quba atau di Maqam Ibrahim. Gua semacam ini tidak memiliki salat tersendiri.”
Sebelum diangkat menjadi nabi, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sering menyendiri di Gua Hira setiap bulan Ramadan. Tradisi ini dikenal dengan istilah tahannuts, yaitu berkhalwat untuk beribadah dan merenung, menjauhi berhala kaum Quraisy.
Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha kerap mengantarkan makanan karena Nabi berhari-hari berada di gua.
Sebagaimana ditulis Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Nabi Muhammad SAW, “Jiwa yang telah dipersiapkan untuk menyampaikan risalah Tuhan tidak mungkin berdiam diri melihat manusia terjerumus dalam kesesatan.”
Setelah beberapa kali melakukan tahannuts di Gua Hira, wahyu pertama diturunkan. Dari gua kecil inilah cahaya Islam mulai menyebar ke seluruh dunia.
Bagi jemaah Indonesia, mendaki Jabal Nur bukan sekadar kegiatan wisata. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa seberat apa pun ujian fisik yang dihadapi, ujian tersebut tidak lebih berat dibandingkan ujian untuk menjaga tauhid dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. (*/Red/MCH-2026)