Musyrif Diny Persilakan Kemenhaj Terapkan Skema Khusus Armuzna untuk Jemaah Lansia dan Disabilitas

MAKKAH – Jemaah haji lansia dan penyandang disabilitas mendapat perlakuan khusus saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Tapi satu hal tidak bisa ditawar, yakni semua tetap melaksanakan rukun wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah.

“Dengan skema apa pun mereka tetap harus berada di Arafah agar hajinya sah,” kata Musyrif Diniy PPIH Arab Saudi, DR. KH. Haris Muslim, di Makkah, Sabtu (23/5/2026).

PPIH membagi jemaah uzur ke dalam lima kategori: penderita penyakit risiko tinggi, lansia, penyandang disabilitas, obesitas, dan pendamping mereka.

Kelompok ini diberi keringanan dalam rangkaian ibadah lainnya karena keterbatasan fisik.

Di Muzdalifah, jemaah uzur tidak turun dari bus. Mereka hanya melintas atau murur langsung menuju Mina.

Skema ini berbeda dengan jemaah reguler lain yang memiliki kondisi sehat dan prima, bisa bermalam di Muzdalifah.

“Kalau mereka turun justru membahayakan kondisi jemaah. Karena itu bus hanya melintas dan langsung menuju Mina,” jelas KH Haris Muslim.

Sekretaris Umum PP Persatuan Islam (PERSIS) ini mengungkapkan, kepadatan saat puncak haji menjadi alasan uzur, karena terlalu berisiko bagi kondisi fisik lansia dan disabilitas.

“Yang paling penting sekarang menjaga kesehatan agar saat puncak haji tidak terlalu memberatkan bagi mereka sendiri,” ujarnya.

Kemenhaj dan PPIH berharap seluruh jemaah uzur bisa menjalani rangkaian Armuzna dengan aman dan khusyuk.

Meski begitu, tantangannya akan tetap harus diantisipasi dan dihadapi karena menjaga ratusan ribu jemaah dengan kondisi fisik berbeda di satu titik kepadatan tertinggi ibadah haji. (*/Red/MCH-2026)

BadalHaji 2026Ibadah HajiKemenhajMururMusyrif dinyOrmas Islam PersisPersatuan Islam (Persis)
Comments (0)
Add Comment