MAKKAH — Suasana kepulangan jemaah haji Indonesia mulai terasa di Kota Makkah. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian puncak ibadah haji, jemaah gelombang kedua kini mulai diberangkatkan menuju Madinah Al Munawwarah sebelum nantinya bertolak kembali ke Tanah Air.
Pada hari pertama perpindahan jemaah, Minggu (7/6/2026), sebanyak 14 kelompok terbang (kloter) dijadwalkan berangkat.
Proses pemberangkatan dilakukan secara bertahap sejak pagi hingga sore hari dengan pengawasan ketat, terutama bagi jemaah lansia dan penyandang disabilitas.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah, Ihsan Faisal, mengungkapkan bahwa pemberangkatan perdana dimulai oleh kloter Jakarta-Pondok Gede (JKG) 18. Kloter ini membawa total 439 jemaah dengan menggunakan 11 armada bus.
“Alhamdulillah hari ini, 7 Juni 2026, merupakan hari pertama pemberangkatan jemaah haji gelombang kedua dari Makkah ke Madinah. Kita mulai dari kloter JKG 18 yang mengangkut 439 jemaah menggunakan 11 bus,” ujar Ihsan saat memantau pelepasan jemaah di Manazel Al Hoor Hotel 2, Misfalah, Sektor 7 Makkah.
Ihsan menegaskan bahwa seluruh mobilisasi jemaah dilakukan pada siang hari demi menjaga kondisi fisik dan kenyamanan mereka.
“Perjalanan dimulai dari pagi hari sampai maksimal sekitar pukul 18.00. Jadi, dipastikan tidak ada perjalanan malam hari,” tambahnya.
Berbeda dengan fase kedatangan, pada perpindahan menuju Madinah ini jemaah diwajibkan membawa seluruh barang bawaan mereka, termasuk koper bagasi besar.
Untuk mengantisipasi penumpukan, petugas menerapkan prosedur khusus agar proses masuk ke dalam bus berjalan tertib.
Bagasi Terintegrasi: Koper besar jemaah langsung diangkut dan dimasukkan ke dalam bagasi bus yang mereka tumpangi.
Prioritas Masuk Bus: Petugas menerapkan urutan prioritas demi keamanan jemaah.
Lansia dan penyandang disabilitas mendapat kesempatan pertama, disusul jemaah perempuan, jemaah laki-laki, dan diakhiri oleh ketua rombongan serta ketua kloter.
Di sisi lain, Ihsan memastikan bahwa hanya jemaah yang dinyatakan sehat dan layak jalan (fit to travel) yang diperbolehkan berangkat.
“Jika ada jemaah yang sakit dan menurut rekomendasi dokter tidak boleh melakukan perjalanan, mereka akan tetap dirawat di rumah sakit Arab Saudi di Makkah hingga kondisinya membaik dan siap menyusul ke Madinah,” terangnya.
Menjelang masa tinggal di Madinah, Ihsan mengingatkan jemaah untuk tidak lengah dalam menjaga kesehatan. Meskipun aktivitas ibadah di Madinah tidak sepadat saat puncak haji di Makkah, faktor cuaca ekstrem tetap harus diwaspadai.
Jemaah diimbau untuk selalu menerapkan langkah-langkah keselamatan berikut:
Jaga Kondisi Tubuh: Selalu hidrasi tubuh karena cuaca di Makkah maupun Madinah saat ini cukup panas.
Jangan Pergi Sendirian: Selalu keluar hotel bersama anggota regu atau rombongan.
Kenali Identitas Penginapan: Mengingat hotel di Madinah tidak menggunakan sistem penomoran seperti di Makkah, jemaah wajib mengingat nama hotel dan sektornya. Jika tersesat, segera hubungi petugas yang tersebar di sekitar Masjid Nabawi.
Salah satu agenda yang paling dinantikan jemaah selama di Madinah adalah berziarah ke Raudhah di Masjid Nabawi. Ihsan memastikan seluruh jemaah haji Indonesia akan mendapatkan hak dan kesempatan untuk beribadah di tempat yang dijuluki Taman Surga tersebut.
Pemerintah Indonesia bersama otoritas Arab Saudi juga telah menyiapkan layanan prioritas bagi jemaah berkebutuhan khusus.
“Bagi jemaah yang menggunakan kursi roda, telah disediakan jadwal khusus serta jalur antrean tersendiri saat berziarah ke Raudhah agar tetap aman dan nyaman,” jelas Ihsan.
Ia berharap seluruh proses transisi jemaah gelombang kedua di Madinah ini dapat berjalan lancar hingga waktu kepulangan ke Indonesia tiba.
“Mudah-mudahan seluruh jemaah bisa menyempurnakan ibadah dan ziarahnya di Madinah sebelum kembali ke Tanah Air,” pungkasnya. (*/Red/MCH-2026)