MAKKAH – Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, menyoroti tingginya angka kematian jemaah haji pada kelompok usia produktif selama pelaksanaan ibadah haji tahun ini. Temuan tersebut dinilai cukup mengejutkan karena mayoritas kasus fatalitas justru tidak terjadi pada jemaah lanjut usia.
Pernyataan itu disampaikan Dahnil usai melakukan kunjungan ke fasilitas KKHI Makkah dan memberikan arahan kepada ratusan tenaga kesehatan pada Rabu (20/5/2026) malam.
Menurut Wamenhaj, banyak jemaah berusia 40 hingga 50 tahun merasa kondisi fisiknya masih prima sehingga memaksakan diri mengikuti berbagai aktivitas ibadah tanpa memperhatikan batas kemampuan tubuh.
“Yang wafat itu kebanyakan justru bukan lansia, yang wafat itu justru yang umur-umur 50an atau 40an. Karena merasa sehat, kemudian memaksakan kegiatan, akhirnya tidak terasa tumbang,” ungkap Dahnil.
Ia mengingatkan seluruh jemaah maupun petugas agar tidak lengah terhadap kondisi kesehatan, meskipun angka kematian jemaah haji tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Wamenhaj meminta kewaspadaan terus ditingkatkan, terutama menjelang fase Armuzna yang dikenal sebagai puncak rangkaian ibadah haji dengan tingkat aktivitas fisik yang sangat tinggi.
Pemerintah, kata dia, menilai kelayakan berhaji bukan semata berdasarkan faktor usia, melainkan kondisi kesehatan dan tingkat kebugaran klinis masing-masing jemaah.
Dahnil menjelaskan, pelayanan kesehatan jemaah saat ini berjalan lebih optimal berkat operasional Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) yang didukung penuh oleh Pemerintah Arab Saudi.
Keberadaan fasilitas kesehatan hingga tingkat sektor disebut sangat membantu percepatan penanganan medis, khususnya dalam situasi darurat yang dialami jemaah menjelang pelaksanaan Armuzna.
Data sementara mencatat hampir 10 ribu jemaah telah menjalani perawatan medis akibat kelelahan hingga risiko serangan panas atau heatstroke selama musim haji berlangsung.
Wamenhaj menilai penurunan angka kematian jemaah tahun ini tidak terlepas dari kuatnya kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan otoritas Arab Saudi dalam perlindungan kesehatan jemaah.
“Secara statistik tahun ini akibat komitmen dari pemerintah Saudi Arabia dan kita, penurunannya (angka kematian) signifikan. Kalau tahun lalu per tanggal ini sudah 120 orang yang meninggal, tapi tahun ini sampai dengan hari ini hanya sekitar 50 orang,” ungkap Wamenhaj kepada Media Center Haji, saat di Klinik KKHI Makkah.
Ia mengatakan, kemudahan izin operasional KKHI dari Pemerintah Arab Saudi menjadi salah satu faktor penting yang membuat pelayanan kesehatan dapat dilakukan lebih cepat dan maksimal.
Menurutnya, dukungan tersebut memungkinkan penanganan kesehatan jemaah dilakukan secara lebih terstruktur sehingga mampu menekan angka kesakitan maupun fatalitas secara signifikan.
Dalam kesempatan tersebut, Wamenhaj juga memberikan apresiasi kepada sekitar 1.600 dokter dan tenaga medis petugas haji yang dinilai bekerja penuh dedikasi dalam melayani jemaah Indonesia.
Ia menyebut kinerja tenaga kesehatan haji mendapat pengakuan positif, baik dari jemaah maupun otoritas Arab Saudi karena respons pelayanan yang cepat dan sigap.
Selain itu, Dahnil meminta seluruh tim medis menjaga stamina dan memperkuat strategi pelayanan jemput bola guna mengantisipasi lonjakan kasus kesehatan saat puncak ibadah haji berlangsung di Armuzna.
Menurutnya, kesiapan tenaga kesehatan akan menjadi faktor utama dalam menjaga keselamatan jemaah dan mencegah peningkatan angka kematian selama fase puncak haji.(*/Red/MCH-2026)