Kemarau Melanda di Kota Serang, 39 Hektare Sawah Terdampak dan 17 Hektare Gagal Panen

SERANG – Kemarau panjang mulai mengancam produktivitas pertanian di Kota Serang. Hingga 27 Agustus 2026, sedikitnya 39 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan yang tersebar di empat kecamatan. Dari jumlah tersebut, sekitar 17 hektare di antaranya mengalami puso atau gagal panen.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Serang mengatakan, lahan pertanian yang terdampak kekeringan berada di Kecamatan Kasemen, Cipocok Jaya, Taktakan, dan Curug.

“Data per 27 Agustus 2026 total luas terdampak 39 hektare. Terdapat di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Kasemen, Cipocok Jaya, Taktakan dan Curug. Kemudian yang terkena puso sekitar 17 hektare,” ujarnya, Selasa (8/9/2026).

Menghadapi kondisi tersebut, DKPPP Kota Serang terus melakukan pemantauan terhadap kondisi lahan pertanian di sejumlah wilayah.

Pemantauan dilakukan bersama penyuluh pertanian, Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), serta bidang teknis terkait.

Menurutnya, pemantauan dilakukan berdasarkan laporan dari petani maupun kelompok tani yang mengalami kendala di lapangan, terutama terkait keterbatasan ketersediaan air dan kondisi tanaman.

“Sebagai pembina masyarakat pertanian, kami melakukan pemantauan dan survei apabila ada laporan dari petani yang membutuhkan penanganan akibat lahannya kekurangan air ataupun kondisi lainnya,” katanya.

Selain kekeringan, pada masa peralihan musim sebelumnya juga sempat ditemukan serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), khususnya wereng. Untuk mengantisipasi meluasnya serangan, DKPPP Kota Serang melakukan upaya pengendalian bersama pemerintah Provinsi Banten.

“Alhamdulillah tetap kita lakukan upaya pengendalian. Pengendalian yang dilakukan tentunya bekerja sama dengan pihak provinsi,” jelasnya.

Sementara untuk menghadapi kondisi kemarau sekaligus mempersiapkan musim tanam berikutnya, DKPPP Kota Serang mendorong petani melakukan percepatan tanam, terutama pada lahan yang telah siap dan masih memiliki ketersediaan air.

Percepatan tanam dinilai penting untuk mengatur waktu pertumbuhan tanaman agar tidak memasuki fase membutuhkan banyak air ketika ketersediaan air mulai menurun.

“Kalau di lapangan lahan pertanian atau kelompok tani sudah siap, sarana produksinya tersedia dan airnya tersedia, silakan tetap dilakukan percepatan tanam,” ujarnya.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu petani mengatur pola dan waktu tanam sehingga kebutuhan air tanaman selama masa pertumbuhan masih dapat terpenuhi.

Di sisi lain, DKPPP Kota Serang juga terus memetakan wilayah yang berpotensi mengalami dampak kekeringan lebih parah. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan yang diperlukan di lapangan.

Pihak DKPPP menegaskan, data 39 hektare lahan terdampak bukan sekadar pendataan awal, melainkan merupakan hasil pemantauan sekaligus penanganan yang telah dilakukan petugas di lapangan.

“Ini bukan data ada kemudian baru ditangani, tetapi sesudah ditangani akhirnya disimpulkan seperti itu. Petugas POPT itu istilahnya dokternya, dia yang mendiagnosa dan menentukan kondisi tanaman,” katanya.

Dengan pemantauan secara berkala dan langkah penanganan di lapangan, pemerintah berharap dampak kemarau terhadap sektor pertanian di Kota Serang dapat ditekan. Petani juga diharapkan tetap dapat mempersiapkan musim tanam berikutnya secara optimal.

Sebagai informasi, Kota Serang memiliki total luas lahan sawah sekitar 7.354 hektare yang tersebar di sejumlah kecamatan, antara lain Kasemen, Walantaka, Curug, Cipocok Jaya, Serang, dan Taktakan.***

Comments (0)
Add Comment