SERANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Serang memperkuat kolaborasi dengan berbagai lembaga filantropi, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), lembaga amil zakat, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Hal Itu dilakukan dalam upaya mempercepat pembangunan jamban keluarga bagi masyarakat. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung target Kota Serang bebas buang air besar sembarangan (BABS).
Komitmen tersebut disampaikan Asisten Daerah II Pemerintah Kota Serang, Yudi Suryadi, usai mengikuti pembahasan program percepatan sanitasi bersama sejumlah pemangku kepentingan di Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Serang.
Yudi mengatakan, pembangunan jamban keluarga menjadi salah satu program prioritas Pemkot Serang dalam meningkatkan kualitas sanitasi dan kesehatan lingkungan masyarakat.
“Kemarin alhamdulillah sebetulnya Pak Wali sudah menyampaikan, karena kita punya target ingin Kota Serang itu bebas. Nah, kita masih ada beberapa kecamatan yang belum tuntas. Ini dalam rangka mempercepat supaya Kota Serang bebas dari buang air besar sembarangan,’ katanya, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, hingga saat ini masih terdapat dua kecamatan yang menjadi fokus penanganan, yakni Kecamatan Kasemen dan Kecamatan Serang.
Di kedua wilayah tersebut masih cukup banyak warga yang belum memiliki akses jamban keluarga yang layak.
“Yang belum tuntas itu Kasemen sama Serang karena memang jumlahnya cukup banyak. Pak Wali ingin mempercepat, makanya kita terus membangun kolaborasi dengan lembaga filantropi supaya masyarakat bisa segera tuntas,” ujarnya.
Untuk mempercepat realisasi program, Pemkot Serang mengoptimalkan sinergi dengan berbagai pihak.
Program yang telah direncanakan pemerintah akan dipadukan dengan dukungan pembiayaan maupun bantuan sosial dari mitra, sementara kebutuhan yang belum terakomodasi dalam anggaran pemerintah akan diupayakan melalui kolaborasi.
“Yang terencana bisa disinergikan dengan program pemerintah. Sedangkan yang belum terencana kami kolaborasikan dengan BAZNAS, lembaga amil zakat, BUMN, BUMD, dan berbagai lembaga filantropi yang ada di Kota Serang,” jelas Yudi.
Ia mengungkapkan, tantangan terbesar dalam pembangunan jamban keluarga bukan hanya keterbatasan anggaran, tetapi juga kondisi lahan di sejumlah permukiman yang sangat sempit sehingga menyulitkan pembangunan fasilitas sanitasi.
“Yang banyak dialami itu memang lahannya sangat sempit. Jangankan untuk membuat jamban, kadang-kadang untuk rumahnya sendiri pun sangat terbatas. Itu yang menjadi salah satu kendala di lapangan,” ungkapnya.
Meski demikian, Pemkot Serang tetap menargetkan percepatan pembangunan jamban keluarga dapat terus berjalan hingga seluruh masyarakat memiliki akses sanitasi yang layak.
“Keinginannya selesai tahun ini. Tetapi karena kemampuan anggaran terbatas, kami terus membangun sinergi dengan berbagai pihak agar percepatan program ini bisa berjalan lebih optimal,” tutup Yudi.***