TANGERANG — Polemik Youth Football National Championship (YFNC) GRANAT 2026 memasuki babak baru. Bukan hanya soal hadiah yang hingga kini disebut belum diterima sejumlah peserta, tetapi juga soal siapa yang mengelola dana turnamen dan ke mana aliran uang pendaftaran peserta.
Fakta tersebut terungkap setelah Ketua Panitia YFNC GRANAT 2026, Ipat Fatur, buka suara kepada wartawan.
Ipat mengaku tidak memegang pengelolaan keuangan turnamen. Menurut dia, uang pendaftaran peserta tidak masuk ke dirinya sebagai ketua panitia, melainkan ditransfer langsung ke rekening GRANAT.
“Saya sebagai ketua panitia cuma menerima laporan saja. Kalau masalah uang, semua ditransfer ke rekening GRANAT langsung,” kata Ipat.
Pernyataan itu sontak memunculkan pertanyaan: jika dana pendaftaran berada di rekening organisasi, siapa yang memiliki kewenangan mengelolanya dan siapa yang bertanggung jawab atas pembayaran hadiah peserta?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan lantaran sejumlah peserta disebut masih menunggu hak mereka setelah turnamen berakhir.
Biaya Pendaftaran Jutaan Rupiah per Tim
YFNC GRANAT 2026 mempertandingkan kelompok usia KU-13, KU-15, dan KU-17.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, biaya pendaftaran disebut mencapai sekitar Rp2 juta untuk KU-13, sedangkan kategori KU-15 dan KU-17 sekitar Rp2,5 juta per tim.
Dengan adanya pungutan pendaftaran tersebut, transparansi pengelolaan dana menjadi penting, terutama ketika muncul persoalan pembayaran hadiah.
Namun, Ipat justru menegaskan bahwa dirinya tidak menguasai langsung keuangan turnamen.
“Saya cuma menerima laporan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menempatkan persoalan pada pertanyaan yang lebih besar mengenai mekanisme pengelolaan keuangan YFNC GRANAT 2026.
Alasan Sponsor Belum Cair
Mengenai keterlambatan hadiah, sebelumnya Ipat mengaku telah berkomunikasi dengan Denny selaku ketua DPC Granat
Menurutnya, alasan yang disampaikan adalah dana sponsor belum cair.
“Alasannya kita lagi belum cair, karena memang mungkin, menurut saya, kayaknya dari sponsor belum cair,” ujar Ipat.
Namun, belum terdapat penjelasan terbuka mengenai siapa sponsor yang dimaksud, berapa nilai dana yang dijanjikan, kapan dana tersebut seharusnya cair, dan apakah dana sponsor menjadi sumber utama pembayaran hadiah.
Hal inilah yang kini menjadi salah satu titik yang perlu dijelaskan kepada peserta.
Sebab, peserta yang telah mengikuti pertandingan dan memenuhi kewajibannya melalui pembayaran pendaftaran tentu membutuhkan kepastian mengenai hadiah yang menjadi hak mereka.
Ketua Panitia: “Kalau Dia Nggak Sanggup, Biar Saya yang Tanggung Jawab”
Di tengah persoalan tersebut, Ipat mengaku telah meminta agar seluruh pihak duduk bersama.
Ia menginginkan adanya pertemuan antara pihak yang mengelola keuangan, panitia, dan peserta untuk menyelesaikan persoalan secara terbuka.
Bahkan, Ipat menyatakan siap bertanggung jawab apabila pihak yang mengelola keuangan tidak mampu menyelesaikan pembayaran hadiah.
“Kalau dia nggak sanggup, biar saya yang tanggung jawab,” katanya.
Sikap tersebut menunjukkan bahwa Ipat menginginkan persoalan hadiah segera dituntaskan dan tidak berlarut-larut.
Mengaku “Cuma Boneka”, Tak Tahu Bantuan Pemerintah
Polemik semakin melebar ketika Ipat mengaku tidak mengetahui informasi mengenai adanya bantuan yang disebut-sebut berasal dari unsur pemerintah daerah.
Ia mengaku tidak mengetahui adanya bantuan dari Wakil Bupati Tangerang maupun camat untuk kegiatan tersebut.
“Saya sebagai ketua panitia cuma boneka, nggak tahu bantuan dari camat, bantuan dari Bu Wakil. Saya nggak tahu,” ungkapnya.
Ipat meminta agar informasi tersebut diklarifikasi langsung kepada Ketua GRANAT apabila memang benar terdapat bantuan.
“Kalau memang ada, ya berarti harus meminta klarifikasi Ketua GRANAT. Karena kita nggak tahu larinya ke siapa saja,” katanya.
Namun, Ipat juga menegaskan bahwa dirinya belum dapat memastikan kebenaran informasi mengenai bantuan tersebut.
Artinya, isu mengenai adanya bantuan pemerintah tersebut belum dapat dianggap sebagai fakta dan masih membutuhkan konfirmasi dari pihak-pihak yang disebut maupun pihak penyelenggara.
Jangan Sampai Turnamen Usia Muda Tercoreng
YFNC GRANAT 2026 sejatinya digelar sebagai ajang kompetisi sekaligus pembinaan pesepak bola usia muda.
Karena itu, persoalan yang muncul setelah turnamen berakhir diharapkan tidak berkembang menjadi persoalan yang justru mencederai semangat pembinaan atlet muda.
Apalagi Ipat mengaku aktif di PSSI Kabupaten Tangerang pada bidang pembinaan usia muda.
Ia mengaku tidak ingin persoalan tersebut berdampak terhadap nama baik sepak bola maupun organisasi yang menaunginya.
“Saya juga nggak enak sama PSSI, makanya ayo selesaikan,” ujar Ipat.
Kini, publik dan peserta menunggu penjelasan dari pihak GRANAT terkait pengelolaan dana pendaftaran, mekanisme pembayaran hadiah, sumber dana sponsor, serta benar atau tidaknya informasi mengenai bantuan dari unsur pemerintah daerah.
Klarifikasi terbuka dinilai menjadi langkah penting agar polemik YFNC GRANAT 2026 tidak terus bergulir dan berkembang menjadi tanda tanya yang semakin besar. ***