TANGERANG — Polemik hadiah juara Youth Football National Championship (YFNC) GRANAT 2026 akhirnya menemui titik terang. Ketua Pelaksana YFNC GRANAT, Ipat Fatur, memilih menggunakan uang pribadinya untuk menalangi hadiah yang belum diterima sejumlah tim peserta.
Penyerahan uang dilakukan di sebuah kafe di kawasan Citra Raya, Cikupa, Kabupaten Tangerang.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh pemilik SSB 24 Sepatan (Adam), pemilik SSB Bintang Kelapa Dua (Zen), serta perwakilan wali murid.
Ipat menegaskan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan moral, bukan karena ia mengelola keuangan turnamen.
“Saya bertanggung jawab karena terkait moral saya,” ujar Ipat.
Menurut Ipat, persoalan hadiah yang berlarut-larut berisiko membebani pemilik SSB karena para orang tua pemain akan terus mempertanyakan keberadaan hadiah tersebut.
“Seandainya tidak saya bereskan, kasihan pemilik SSB. Nanti para orang tua murid pasti menanyakan uang hadiahnya ke mana,” lanjutnya.
Ipat menjelaskan bahwa sejak awal ia tidak memegang kendali atas keuangan kegiatan. Seluruh pembayaran pendaftaran peserta ditransfer langsung ke rekening GRANAT.
“Saya sebagai ketua panitia cuma menerima laporan. Masalah uang, semua ditransfer ke rekening GRANAT langsung,” jelas Ipat.
Ia juga mengungkapkan bahwa usulannya untuk menempatkan orang pilihannya di posisi bendahara sempat ditolak.
“Waktu itu saya minta bendahara dari orang saya, tetapi tidak dikasih. Jadi kami cuma terima laporan beberapa lembar kertas,” ungkapnya.
Meski harus menggunakan uang pribadi, Ipat memilih menyelesaikan masalah ini agar tidak bertambah panjang. Ia mengaku sempat ragu karena keterbatasan dana pribadi.
“Sebenarnya dari awal mau saya bayarkan, tetapi saya ragu, masa sekelas Ketua GRANAT tidak ada uang? Kalau saya bayarkan pakai uang pribadi, nilainya tidak bisa penuh,” tuturnya.
Ipat berharap kejadian ini menjadi evaluasi bersama agar penyelenggaraan turnamen berikutnya memiliki sistem pengelolaan keuangan yang lebih transparan dan jelas. Ia pun menegaskan tidak jera untuk terus berkontribusi dalam pembinaan sepak bola usia muda.
“Kalau saya sih tidak ada kapok-kapoknya,” tegas Ipat.***