Buku Jejak Kiai Baja; Menelusuri Sejarah Al-Khairiyah dan Bedol Desa oleh PT Krakatau Steel

CILEGON – Pengabdian KH. Ali Jaya menjaga keberadaan Madrasah Al-Khairiyah Citangkil berlangsung ketika Cilegon mulai memasuki babak industrialisasi.
Pembangunan kawasan industri PT Krakatau Steel mengubah kampung, tanah dan kehidupan masyarakat. Perubahan itulah yang menjadi salah satu cerita utama dalam buku Jejak Kiai Baja karya Mang Pram.
Buku terbitan Sinom Media Publisher itu menempatkan KH. Ali Jaya dalam persilangan sejarah pendidikan Al-Khairiyah dan perubahan sosial Cilegon menjadi kawasan industri.
Buku ini mencatat kisah tentang seorang kiai kemudian melebar menjadi cerita tentang madrasah, kampung dan masyarakat yang berhadapan dengan pembangunan industri baja.
KH. Ali Jaya dikenal sebagai murid generasi pertama KH. Syam’un. Setelah KH. Syam’un gugur dalam perang gerilya pada 1949, KH. Ali Jaya tetap melanjutkan pengembangan Madrasah Al-Khairiyah.
Hingga memasuki masa pembangunan nasional, desa-desa di Cilegon saat itu harus digusur untuk pembangunan pabrik PT Krakatau Steel di awal tahun 1970an.
“Peristiwa bedol desa dan dinamika pembangunan kawasan industri baja nasional adalah bagian yang sangat emosional, karena ada Madrasah Al-Khairiyah Citangkil,” kata Mang Pram, Senin, 5 Oktober 2026.
Dalam Jejak Kiai Baja, bedol desa tidak ditempatkan sekadar sebagai peristiwa pemindahan warga.
Peristiwa itu menjadi pintu untuk melihat bagaimana pembangunan industri mengubah kampung dan memutus sebagian hubungan masyarakat dengan ruang hidupnya.
Di titik tersebut, kisah KH. Ali Jaya bertemu dengan sejarah besar Cilegon.
Di satu sisi terdapat madrasah yang berusaha mempertahankan pendidikan dan tradisi keagamaan.
Di sisi lain, kawasan industri tumbuh dan mengubah bentang ruang yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Buku ini bermula dari skripsi Mang Pram di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Al-Khairiyah Citangkil pada 2020.
Penelitian tersebut kemudian ditulis ulang dengan pendekatan naratif populer melalui penelusuran arsip, pustaka, wawancara keluarga dan kesaksian warga.
“Saya masih ingat saat sidang skripsi, dosen penguji menyarankan hasil penelitian ini dibukukan. Kemudian saya kembali riset lebih mendalam,” ujarnya.
Melalui biografi KH. Ali Jaya, Buku Jejak Kiai Baja tidak hanya mengajak pembaca mengenal seorang tokoh pendidikan Al-Khairiyah.
Buku itu juga membuka kembali sebuah masa ketika Citangkil berubah, masyarakat menjalani bedol desa, dan pembangunan industri baja mulai membentuk wajah Cilegon seperti yang dikenal sekarang. ***


