Karena Popularitas, Banyak Non Kader Dicalonkan Sebagai Kepala Daerah
CILEGON – Dalam dialog penguatan Partai Politik (Parpol) untuk meningkatkan partisipasi pemilih, untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Cilegon. Dosen Untirta menilai, adanya pragmatisme ditubuh Parpol.
“Padahal Parpol itu penentu dan penyuplai pemimpin di pusat, dan daerah. Harusnya di isi orang berkompeten,” kata Dosen ilmu Pemerintahan Fisip Untirta, Abdul Hamid, Selasa (03/11/2020).
Ia menilai, seharusnya Parpol menjadi kepanjangan tangan masyarakat, ketika masyarakat memilih maka juga harusnya memilih Parpol yang dipilih. Di Indonesia memang ada Reses, sebagai komunikasi anggota legislatif dengan masyarakat.
“Tapi kita butuh komunikasi yang organik, harus ada seperti keterikatan antara anggota legislatif dengan masyarakat,” tuturnya saat menyampaikan materi.
Selain itu, ia menilai identitas Parpol di Indonesia masih rendah, sehingga perlu ada komunikasi yang intens. Dan ini butuh kerja-kerja politik, jangan hanya saat dekat pemilu.
“Sederhananya konstituen bila dipedulikan akan terbangun itu (identitas),” jelasnya, ketika ditemui di salah satu Hotel di Cilegon.
Pada dasarnya, antara Parpol berbeda secara karakteristik, dimana kawah candradimuka dari kepemimpinan di masa depan adalah Parpol.
“Hal seperti diskusi publik ini bisa diselenggarakan di masing masing Parpol,” tuturnya.
Namun, ia melihat dalam proses rekrutmen banyak Parpol melakukan secara pragmatis, karena tolak ukurnya itu popularitas. Sehingga banyak non kader yang dicalonkan, terutama saat pemilihan Calon Kepala Daerah (Cakada).
“Ada dua hal yang harus diterima dan dipahami, yakni, figur yang membesarkan Parpol, atau Parpol menciptakan figur. Saya lebih suka yang kedua,” jelasnya.
Sementara itu, moderator yakni Ahmad Yusdi menilai ada fenomena menarik di politik kontemporer hari ini, dimana terlihat relawan jauh lebih aktif, daripada anggota Parpol dalam mengkampanyekan Cakada.
“Bahkan ada di Cilegon yang calon kepala daerah lebih percaya relawan,” pungkasnya. (*/A.Laksono)

