Ketua STIT Al-Khairiyah Cilegon Kecam Keras Serangan terhadap Situs Warisan Dunia di Iran

CILEGON – Ketua STIT Al-Khairiyah, Ahmad Munji, menyampaikan kecaman keras terhadap serangan yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah situs bersejarah dan budaya di Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul adanya permintaan dari Kedutaan Besar Iran agar kalangan akademisi, cendekiawan, dan tokoh di Banten turut menyuarakan sikap tegas atas dugaan serangan yang merusak warisan peradaban dunia.
“Serangan terhadap situs bersejarah bukan hanya melukai suatu bangsa, tetapi juga mencederai warisan kemanusiaan yang seharusnya dijaga bersama,” ujar Ahmad Munji dalam keterangannya, di Cilegon, Banten, Kamis (19/3/2026).
Ia menegaskan, tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun, termasuk dalam situasi konflik. Menurutnya, perlindungan terhadap situs budaya telah diatur dalam hukum internasional dan menjadi tanggung jawab seluruh negara.

Berdasarkan laporan yang beredar, sedikitnya 56 monumen bersejarah dan situs budaya di Iran mengalami kerusakan struktural serius akibat serangan selama konflik berlangsung. Provinsi Teheran tercatat sebagai wilayah dengan dampak terbesar, dengan 19 situs mengalami kerusakan. Sementara itu, sebanyak 12 monumen berharga di Provinsi Kurdistan juga dilaporkan terdampak.
Sejumlah landmark penting yang dilaporkan mengalami kerusakan antara lain Istana Golestan, Pasar Besar Teheran, Masjid Shah (Abbasi), Jembatan Si-o-se-pol, Istana Chehel Sotoun dan Istana Ali Qapu di Isfahan, serta Kastil Falak-ol-Aflak di Lorestan.
Ahmad Munji juga mendorong lembaga internasional seperti UNESCO untuk mengambil sikap tegas atas kejadian tersebut.
“UNESCO harus bersuara dan mengambil langkah nyata untuk mengutuk serta mencegah kerusakan lebih lanjut terhadap situs-situs bersejarah yang menjadi milik dunia,” tegasnya.
Ia menambahkan, situs-situs tersebut merupakan bagian dari warisan bersama umat manusia yang dilindungi oleh Konvensi Den Haag 1954, yang menegaskan kewajiban semua pihak untuk menjaga dan tidak merusak objek budaya, bahkan dalam masa perang.
“Jika ini terus dibiarkan, maka kita sedang menyaksikan hilangnya jejak sejarah dan identitas peradaban dunia secara perlahan,” pungkasnya.***


