Kisah Pilu Keluarga Juru Parkir di Cilegon, Kembali Makan Telur Dadar Air Setelah MBG Dihentikan

CILEGON – Maysanti (48), warga Kampung Kelelet, Kelurahan Warnasari, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon, Banten, sangat berharap pemerintah tidak menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah anaknya.
Ibu dengan delapan anak ini mengaku program tersebut sangat meringankan beban keluarganya.
Harapan ini disampaikan Santi—sapaan akrabnya—saat ditemui di kediamannya yang baru saja direnovasi oleh PT Cabot bersama Kodim 0623/Cilegon melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128.
Santi menceritakan, sudah hampir satu bulan dua anaknya, Siti Maemunah (9) dan Muhamad Ajidan (7), yang bersekolah di SD Negeri Kelelet tidak lagi menerima paket MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ia mengaku tidak tahu pasti alasan penghentian distribusi makanan tersebut.

“Semenjak dihentikan, saya bingung bagaimana memenuhi gizi anak saya, Om,” keluh Santi sambil menarik napas panjang, Senin (1/6/2026).
Kondisi ekonomi keluarga Santi memang jauh dari kata cukup.
Suaminya yang bekerja sebagai juru parkir hanya membawa pulang penghasilan sekitar Rp20.000 per hari.
Uang tersebut tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarga dengan banyak anak.
“Bingung membaginya. Paling hanya cukup untuk beli setengah kilogram beras dan dua butir telur. Telur itu didadar lalu dicampur air biar mengembang, lalu dimakan bersama-sama (bacakan). Pokoknya pagi dan sore menunya telur dadar,” ungkapnya sedih.
Sebab itulah, kehadiran program MBG sempat menjadi angin segar bagi keluarga mereka. Santi sangat berharap program ini bisa segera berjalan kembali.
Dampak berhentinya program MBG juga sangat dirasakan oleh sang anak, Siti Maemunah (9).
Bocah yang duduk di bangku sekolah dasar ini mengaku sangat merindukan menu makanan dari sekolah, terutama ayam goreng.
“Saya sukanya makan ayam, apalagi kalau digoreng. Sekarang sudah tidak pernah makan ayam lagi sejak (programnya) setop,” tutur Siti polos.
Siti juga bercerita, saat program MBG masih berjalan, ia sering membawa pulang makanan sisa milik temannya yang tidak habis.
Makanan itu ia bawa ke rumah untuk dinikmati bersama ibu dan adik-adiknya yang masih kecil.
Kondisi Santi saat ini sebenarnya memerlukan perhatian khusus.
Ia baru saja melahirkan anaknya yang kedelapan sekitar 15 hari lalu.
Dalam kondisi pascapersalinan, Santi sangat membutuhkan asupan gizi yang optimal untuk mempercepat pemulihan tubuh, menyembuhkan luka, mengembalikan energi, serta mendukung produksi ASI yang berkualitas demi tumbuh kembang bayi barunya.
Penghentian program MBG di sekolah anaknya pun kian menambah beban psikologis dan fisik yang harus ia tanggung.***


