Memvalidasi Golok Day Bukan Sekedar Even Pamer Kota Baja
CILEGON — Even Golok Day yang menjadi kegiatan tahunan di Kota Cilegon kembali digagas sebagai upaya bersama antara Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Cilegon, paguron dan pemerintah dalam memperkuat nilai budaya.
Pencak silat diakui sebagai bagian dari kehidupan masyarakat di Kota Baja.
Sejak dahulu, seni bela diri pencak silat telah menjadi akar dan pondasi dalam kehidupan masyarakat Cilegon.
Kemampuan kanuragan dan keberanian warga bahkan pernah mendorong lahirnya peristiwa bersejarah Geger Cilegon 1888, yang menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda.
Lebih dari sekadar bela diri, pencak silat mengajarkan nilai-nilai luhur seperti saling menghormati, rendah hati, dan keberanian untuk menentang keburukan.
Tradisi ini menjadi warisan penting yang harus terus dilestarikan serta dikenalkan kepada generasi muda Cilegon agar tidak hilang dimakan waktu.
Tahun ini, Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Cilegon bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Cilegon, kembali menginisiasi penyelenggaraan Golok Day 2025, yang dijadwalkan berlangsung pada 15 November 2025 mendatang.
Sekretaris IPSI Kota Cilegon, Fatur R. Sadeli, mengatakan bahwa kegiatan ini sempat vakum beberapa tahun dan telah menjadi perhatian banyak paguron, tidak hanya di Cilegon, tetapi juga di berbagai daerah di Banten.
“Banyak yang ingin ini kembali dilaksanakan, dan kami ingin ini menjadi bagian dari upaya kita mengenalkan pencak silat sebagai bagian dari kehidupan kita wong Cilegon,” ujar Fatur, Jumat (14/11/2025)
Saat ini, tercatat ada sekitar 230 paguron dengan jumlah anggota mencapai 9.200 orang di Kota Cilegon.
Namun, minimnya kegiatan yang mempertemukan para pendekar di tingkat kota membuat komunitas pencak silat terasa seolah kecil dan terpecah.

Kembalinya Golok Day diharapkan menjadi wadah silaturahmi bagi para pendekar, guru besar, dan pelaku pencak silat di seluruh Cilegon.
Setelah sempat vakum sejak 2022, kehadiran even ini tentu sangat dirindukan oleh para penggiat budaya bela diri tradisional tersebut.
Namun demikian, pelaksanaan hajat budaya ini dihadapkan pada sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi belanja Pemerintah Kota Cilegon yang membuat pelaksanaan acara berpotensi tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.
Selain persoalan pendanaan, penyelenggara juga berharap Golok Day dapat masuk ke dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN), agar mendapat perhatian lebih luas di tingkat nasional.
Sayangnya, proses seleksi KEN yang ketat serta tuntutan untuk menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat umum masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu disiasati.
“Itu juga yang ditanyakan kurator KEN berkaitan dengan agenda apa yang bisa orang umum nikmati,” ujarnya menambahkan.
Menurut Fatur, secara konsep Golok Day memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata budaya, asalkan tidak hanya berfokus pada komunitas pencak silat semata. Diperlukan inovasi agar kegiatan ini bisa dinikmati oleh masyarakat luas tanpa kehilangan ruh budaya aslinya.
Keterlibatan masyarakat umum, atraksi budaya yang terbuka, serta kolaborasi lintas sektor diyakini bisa memperkuat posisi Golok Day sebagai salah satu ikon budaya Cilegon.
Lebih jauh, validasi formal bagi event ini menjadi hal penting. Pengakuan dari kalender pariwisata daerah maupun nasional tidak hanya akan menambah prestise kegiatan tersebut, tetapi juga membuka peluang dukungan dana dan promosi yang lebih besar.
Dengan validasi itu, Golok Day diharapkan tak sekadar menjadi acara seremonial tahunan, melainkan sebuah peristiwa budaya yang berdampak nyata bagi pelestarian pencak silat, pemberdayaan paguron, serta peningkatan citra Cilegon sebagai kota berakar kuat pada nilai-nilai tradisi.
“Validasi perlu bagi event Golok Day ini, terutama di kalender pariwisata dan event nasional sehingga mampu mendatangkan dampak positif bagi pelaku budaya itu, terutama pengakuan dari masyarakat dan pemerintah,” tutup Fatur.
Jika dikelola dengan serius dan inklusif, Golok Day bukan hanya ajang kebanggaan para pendekar, tetapi juga bisa menjadi magnet wisata budaya yang mengangkat kembali jati diri Kota Cilegon sebagai kota yang berani, berbudaya, dan penuh semangat persaudaraan. (*/ARAS)


