Murid SMP Mardiyuana Cilegon Tak Malu Kumpulkan dan Jual Sampah

CILEGON–Murid-murid SMP Mardiyuana Cilegon menunjukkan kepedulian lingkungan sekaligus semangat kewirausahaan melalui Program Kolaborasi Kelola Sampah Ekonomi Sirkular di Sekolah (Kolase) Batch II yang diinisiasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon.
Sekolah tersebut menjadi satu dari 16 satuan pendidikan di Kota Cilegon yang mengikuti program Kolase Batch II sejak awal 2025.
Program ini melibatkan seluruh peserta didik dalam kegiatan pemilahan dan pengelolaan sampah bernilai ekonomi, khususnya botol plastik.
Kepala SMP Mardiyuana Cilegon, Aries Sasongko Putra, mengatakan Kolase merupakan bagian dari strategi sekolah dalam membangun pendidikan karakter peserta didik sejak dini, sekaligus mengubah cara pandang terhadap sampah.
“Kita tidak bisa melihat sampah ini adalah hasil buangan yang tidak bermanfaat. Ini bisa bermanfaat dan bisa mendapatkan uang. Kalau kita bersama-sama, apa yang didapat juga akan besar,” ujar Aries, Selasa (6/1/2026).
Menurutnya, perubahan perilaku warga sekolah terlihat signifikan sejak program tersebut berjalan.
Sampah botol plastik yang sebelumnya melimpah kini justru menjadi barang bernilai dan diminati.
“Sampah ini akan jadi rebutan. Dan kami mengalami. Dulunya kami di tempat sampah itu yang khusus botol bekas, dulu sering penuh tuh. Sekarang sangat sulit sekali,” katanya.
Aries menjelaskan, pelaksanaan Kolase dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan bank sampah, tim ekologis sekolah, guru, peserta didik, hingga orang tua siswa.
Dukungan orang tua dinilai sangat membantu, terutama dalam penyediaan sampah terpilah dari rumah.

“Ada juga yang orang tua juga sangat mendukung sekali, membawakan apa itu sampahnya dari rumah ke sekolah karena saking banyak,” ujarnya.
Ia menegaskan, pelibatan aktif peserta didik menjadi kunci keberhasilan program, terlebih karena hasil pengelolaan sampah dimanfaatkan kembali untuk kepentingan siswa.
“Jadi memang seperti ini kita harus melibatkan untuk anak, lalu hasilnya juga untuk mereka. Akan berbeda jika misalnya mereka bawa lalu kita yang mengumpulkan,” tuturnya.
Selain kegiatan langsung, sekolah juga memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi dan motivasi dengan membuat konten kegiatan Kolase, di mana siswa berperan sebagai edukator.
Sementara itu, Ketua OSIS SMP Mardiyuana Cilegon, Josephine N., mengatakan kegiatan pengumpulan sampah turut membangun kebersamaan dan motivasi antar siswa di tingkat kelas.
“Kita punya tujuan sendiri, habis kita kumpul semua dari uang kelas ini kita mau pergi ke mana. Nah, itu juga didorong dari motivasi dari wali kelas, Wali kelas bilang kita kalau misal udah kekumpul, kita boleh pakai uangnya buat ke mana aja,” ujarnya.
Menurut Josephine, hasil pengelolaan sampah juga dimanfaatkan untuk menambah kas kelas, sehingga siswa saling mengingatkan untuk mengumpulkan botol plastik bekas.
“Bantu uang kas juga. Nah, dari situ kita saling ingetin teman-teman buat kalau beli minuman dari botol plastik dari kantin, itu buat disimpen di belakang kelas dulu baru nanti pas tiba waktunya penimbangan kita kumpulin,” katanya.
Kesadaran siswa terhadap kebersihan lingkungan sekolah pun meningkat, termasuk saat menemukan sampah di luar kelas.
“Kalau di luar kelas yang tercecer gitu aja? He-he. Kalau saya sendiri, saya bakal ngambil. Ambil terus simpen di kelas. Tapi kalau misalnya keadaannya udah kayak hancur banget botolnya, saya buang di tempat sampah sekolah,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses penimbangan sampah juga menjadi pengalaman belajar tersendiri karena siswa dapat berinteraksi langsung dengan petugas penimbangan.
“Karena jujur pas penimbangan itu kan beberapa dari orang dari kelas itu kan turun, dan dari situ kita bisa ngobrol langsung sama yang punya penimbangan ini,” pungkasnya. (*/ARAS)


