Iklan Banner

PCNU Kota Cilegon Harapkan Industri Serap Tenaga Kerja dari Alumni Santri

Saiful Basri HPN

 

CILEGON – Menyambut Hari Santri Nasional 2025, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Cilegon, Erick Rebiin, menyampaikan harapan agar dunia industri di Kota Cilegon dapat menjalin sinergi dengan kalangan santri, terutama dalam memberikan ruang bagi alumni pesantren untuk berkontribusi di sektor industri.

Erick menilai, keberadaan industri besar di Kota Baja ini seharusnya tidak hanya menjadi motor penggerak ekonomi, tetapi juga mampu menjaga nilai-nilai sosial, spiritual, dan budaya religius masyarakat yang telah lama melekat dalam kehidupan warga Cilegon.

Menurutnya, karakter masyarakat santri yang menjunjung tinggi gotong royong, kebersamaan, dan adab perlu tetap menjadi bagian dari identitas Cilegon di tengah pesatnya pertumbuhan industri dan investasi.

“Maka selalu terbangun gotong royong, selalu terbangun kebersamaan sebagaimana kehidupan para santri,” lanjutnya, Rabu, (22/10/2025).

Ia menegaskan bahwa hubungan antara industri dan masyarakat santri bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga tentang saling menghargai dan menjaga harmoni sosial.

Dunia industri, kata dia, harus memahami bahwa Cilegon memiliki akar tradisi keislaman yang kuat dan perlu dihormati dalam setiap langkah pembangunan.

“Begitupun keberadaan industri harus menghargai bahwa Cilegon sebagai Kota Santri, sehingga kita bisa bersinergi dan juga harus peduli kepada santri,” tegasnya.

Ia menambahkan, para santri juga memiliki kontribusi penting dalam menjaga stabilitas sosial yang turut mendukung kelancaran aktivitas industri di Cilegon.

Dengan kata lain, keberadaan santri dan pesantren menjadi bagian dari ekosistem sosial yang menopang kemajuan ekonomi kota ini.

Oong Ade HUT Gerindra

“Karena keberadaan santri juga ikut menjaga daripada jalannya dan majunya industri tersebut,” ujarnya.

Erick juga menepis pandangan bahwa kalangan santri menolak kehadiran industri dan investasi. Ia menekankan, santri justru terbuka terhadap kemajuan, selama nilai-nilai moral dan sosial yang menjadi identitas masyarakat Cilegon tetap dijaga.

“Kita sebagai kaum santri tidak menolak kehadiran industri dan investasi tapi jangan juga menutup diri dengan santri,” katanya.

Ia mengingatkan dengan mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan daerah harus berangkat dari keseimbangan antara kemajuan industri dan keluhuran nilai keagamaan, agar Cilegon tetap menjadi kota yang maju tanpa kehilangan jati dirinya sebagai Kota Santri.

“Harapan terbesarnya adalah, Cilegon tetap menjadi Kota Santri dan masyarakat Kota Cilegon mengedepankan kehidupan santri, sehingga kalaupun tergerus dengan industri dan kedatangan investasi Cilegon masih memiliki adab layaknya seorang santri,” ujarnya.

Dalam pandangannya, hubungan harmonis antara industri dan dunia pesantren bisa diwujudkan melalui program pembinaan, pelatihan, dan pemberdayaan yang melibatkan santri maupun alumni pesantren.

“Artinya kita memahami jalannya industri tidak lepas dari doa-doa para santri, maka sifatnya ada pembinaan-pembinaan yang dilakukan industri kepada santri,” imbuhnya.

Erik juga menyoroti pentingnya industri membuka peluang kerja bagi para alumni santri yang memiliki potensi dan keterampilan, sehingga keberadaan pesantren tidak hanya menjadi lembaga pendidikan moral dan agama, tetapi juga mampu melahirkan sumber daya manusia yang siap berdaya saing.

“Alumni-alumni santri itu juga seharusnya bisa diakomodir, bisa bekerja di industri,” ujarnya menegaskan.

Menurut Erick, jika kolaborasi ini terjalin dengan baik, maka Cilegon tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga sebagai kota yang beradab, religius, dan berkarakter santri, tempat nilai spiritual dan ekonomi tumbuh berdampingan. (*/ARAS)

Ade Hasbi HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien