
CILEGON – Quinesha Sandrina Kusumah, pelajar asal Kota Cilegon yang konsisten menekuni seni tari tradisional sejak usia dini sebagai bentuk pelestarian budaya daerah.
Quinesha yang kini berusia 11 tahun dan duduk di bangku kelas V SD Al-Azhar 40 Kota Cilegon.
Sejak kecil, ia telah menunjukkan ketertarikan kuat terhadap dunia tari dan seni budaya.
Quinesha kini aktif sebagai penari binaan Sanggar Puspa Arum Cilegon di bawah bimbingan Hendrik Arumsujiwati yang akrab disapa Bunda Wati.
“Suka menari sejak kecil. Mulai kelas dua SD sudah sangat suka, dan pada usia delapan tahun atau kelas tiga SD saya resmi bergabung dengan Sanggar Puspa Arum Cilegon,” ujar Quinesha usai tampil pada Gala Dinner HPN 2026 Pemerintah Kota Cilegon bersama SMSI di halaman Kantor Walikota, Sabtu (7/2/2026) malam.
Dalam perjalanannya, Quinesha telah mempelajari dan menguasai berbagai tarian tradisional khas Cilegon dan Banten.
Tari Kreasi Senong, menjadi salah satu tema tarian yang dibawakan Quinesha dan tiga teman lainnya pada gelaran Gala Dinner HPN 2026 di Cilegon.
Selain juga ia menguasai seni tari seperti Karang Bolong, tari Susuk Ronggeng, hingga Golok Jawara dan sejumlah tarian lainya.


Kemampuannya tersebut mengantarkannya tampil di berbagai kegiatan seni dan budaya, baik di dalam maupun luar Kota Cilegon.
“Menari bukan sekadar hobi, tapi juga cara saya ikut melestarikan budaya lokal. Saya sudah tampil di banyak acara dan merasa senang bisa dipercaya menampilkan kesenian daerah di hadapan banyak orang,” tuturnya.
Kepercayaan diri Quinesha saat tampil, baik secara individu maupun berkelompok, juga tercermin dari sejumlah prestasi yang diraihnya.
Ia tercatat pernah meraih juara pertama dalam ajang lomba tari tingkat regional yang digelar di Depok dan daerah lainya.
“Belum lama ini saya dapat juara satu di Depok,” katanya singkat.
Melalui kecintaannya pada seni tari, Quinesha berharap dapat menginspirasi generasi muda untuk tetap menjaga dan mempertahankan warisan budaya daerah.
“Saya mengajak anak-anak muda untuk mencintai budaya lokal. Lewat tari, kita bisa ikut menjaga agar budaya daerah tetap utuh dan tidak hilang,” ujarnya. (*/Nandi)

