Tradisi ‘Qunutan’ Mengisi Pertengahan Ramadhan di Cilegon

Gerindra Nizar

CILEGON – Tidak terasa, malam ini bulan Ramadhan memasuki malam ke 15, ummat muslim di Kota Cilegon yang memiliki tradisi ‘Qunutan’ mulai bersiap-siap dalam menyambut dan mengisi tradisi yang khas ini di pertengahan bulan suci.

Tradisi Qunutan ini ada yang menyebut ‘Kupatan’ atau ‘Kupat Qunut’, karena dalam tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur setelah melewati separuh puasa yang diungkapkan masyarakat secara beramai-ramai membuat ketupat dan memasak hidangan lauk yang dianggap istimewa dari daging Sapi dan Ayam, seperti Opor, Rabeg, Gulai dari dan sebagainya.

Walaupun tradisi ini juga ada di daerah-daerah Banten bahkan Provinsi lainnya di Indonesia, namun tradisi Qunutan di Cilegon seakan sudah mendarah daging dan disinyalir sudah ada sejak era Kesultanan Banten.

Fraksi serang

Seperti dalam pantauan Fakta Banten di beberapa Perkampungan di Cilegon Jum’at sore hingga malam ini (9/6/2017), di Kampung Terate Udik, Kelurahan Masigit Kecamatan Jombang terpantau hampir disetiap rumah warga di Kampung ini dari orang tua sampai anak-anak tengah sibuk membuat Ketupat sesudah Sholat Tarawih untuk merayakan tradisi Qunutan besok.

“Besokkan Qunutan, disini mah sudah tradisi sejak nenek moyang dulu, katanya sejak dari Kesultanan Banten dulu. Alhamdulillah, anak-anak juga masih mau belajar, besok ba’da terawih kita riungan ketupat di Masjid,” ujar Amir, pemuda setempat.

Aktivitas membuat Ketupat Qunut juga terpantau di Kampung Kubang Lampit, Kelurahan Tegal Bunder, Kecamatan Purwakarta. Begitupun di Kampung Cikerut, Kelurahan Karang Asem dan juga Kampung Pasir Angin, Kelurahan Cikeray, Kecamatan Cibeber.

Fraksi

“Iya Qunutan mah udah tradisi disini, kita riungannya malam habis Tarawih kang, anak-anak disini masih mau belajar membuat urung (kulit) Ketupat. Semoga tradisi ini masih terus dipertahankan terus,” ungkap Juli, tokoh Masyarakat Pasir Angin.

Setelah membuat urung atau wadah kerangka Ketupat malam ini baru besoknya diisi beras dan direbus sambil memasak sayur dan hidangan lauk. Baru pada malam hari ba’da Sholat Tarawih, Ketupat-ketupat dari rumah-rumah warga dibawa ke Masjid atau Mushola untuk diadakan Ngeriung dan ber do’a, baru setelah itu Ketupat-ketupat ini dibagikan kepada warga khususnya yang ikut riungan.

Seiring dengan pesatnya pembangunan di Kota Cilegon, terlebih banyaknya Tambang dan Perumahan yang membuat keberadaan pohon Kelapa makin berkurang, walaupun begitu di bulan puasa ini bisa menjadi keberkahan tersendiri, dimana daun mudanya (Janur) sebagai bahan urung wadah Ketupat, banyak warga yang mendapatkan penghasilan dari menjual Janur ini karena warga yang tak lagi punya pohon Kelapa antusias membeli Janur ini untuk tetap merayakan tradisi Qunutan ini.

Namun hal ini tentunya menjadi tantangan bagi masyarakat dan pemerintah Kota Cilegon kedepan untuk bisa berlaku arif kepada alam, karena bisa saja dengan terus berkurangnya pohon Kelapa di Cilegon tentu masyarakat juga akan makin sulitnya mendapatkan Janur sebagai bahan utama membuat Ketupat.

Hal ini bisa saja kedepan merubah struktur urung kerangka ketupat dari daun yang alamiah ke bahan plasitik misalnya. Selain itu hal yang lebih utama dilakukan adalah regenerasi pembuat Ketupat, mengingat banyak anak-anak muda di Cilegon yang makin kesini banyak tidak bisa membuat kerangka Ketupat.

Terlepas kengganan untuk belajar atau memang para orang tua yang tidak menekankan anaknya untuk belajar bisa membuat kerangka Ketupat. Tentunya persoalan ini kedepan harus dipikirkan bersama-sama supaya tradisi Qunutan yang merupakan warisan leluhur ini bisa terjaga dan terus dilestarikan di Kota Cilegon. (*)
Penulis: Ilung.

Gerindra kuswandi