Penderita Thalasemia di Banten Meningkat, Capai 835 Penderita

SERANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten mencatat, jumlah penderita Thalasemia Mayor mencapai 834 kasus per Agustus 2025.

Jumlah tersebut mengalami peningkatan dari tahun 2024 yang mencapai sekitar 700 penderita.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten, Ati Pramudji Hastuti mengatakan, bahwa jumlah penderita kelainan darah atau Thalasemia mengalami tren kenaikan di Indonesia.

Demikian dengan Banten, dimana penderita di tahun ini mengalami peningkatan sekitar 10 persen atau sejumlah 834 kasus di bandingkan tahun sebelumnya dengan 700 kasus.

“Sekarang trendnya memang sedang naik, baik di Indonesia maupun di Banten,” katanya, usai audiensi di Rumdin Gubernur Banten, Selasa (5/8/2025).

Ia memaparkan, kasus Thalasemia Mayor atau bentuk yang parah dapat muncul lantaran kedua orang tua yang memiliki gen sifat penyakit turunan Thalasemia Minor atau bentuk yang tidak parah.

Dampaknya, kombinasi dua gen tidak normal itu akan berpotensi besar mewarisi penyakit Thalasemia menjadi mayor ke anak-anaknya.

“Pembawa sifat biasanya turunan tapi minor, kalau pembawa sifat keduanya, maka bisa salah satu anak atau semuanya anaknya bisa Thalasemia mayor,” jelasnya.

Posco Tahun Baru

Untuk penderita Thalasemia Mayor, kata Ati, memiliki penanganan yang serius. Bagi penderita ini, dibutuhkan vitamin dan transfusi darah setiap saat selama seumur hidupnya.

Di Banten sendiri, belum semua rumah sakit tipe B dapat menangani pasien tersebut, khususnya untuk program BPJS Kesehatan seperti yang dikeluhkan oleh Persatuan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia (POPTI) Tangsel.

“Terkendala di rumah sakit tipe B yang ada di Tangsel. Dari empat rumah sakit yang ada masih terdapat rumah sakit yang belum bisa menerima pasien penderita Thalasemia Mayor lewat BPJS (kesehatan),” ujar Ati.

Guna menyelesaikan masalah ini, sesuai dengan arahan Gubernur Banten Andra Soni, Ati bakal mencoba mengkoordinasikan seluruh rumah sakit tipe B baik milik pemerintah ataupun swasta, untuk ikut terlibat terhadap pencegahan maupun penanganan Thalasemia.

“Nanti kita akan memanggil RS yang ada untuk mereka ikut berkontribusi. RSUD Banten sendiri sudah bisa meng-cover semuanya, termasuk penyakit Thalasemia,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Gubernur Banten Andra Soni usai audiensi mengatakan, pihaknya terus komitmen untuk melakukan perbaikan penanganan dan pelayanan terhadap masyarakat bidang kesehatan, termasuk di masalah ini.

“Mereka (POPTI Tangsel) menyampaikan aspirasi terkait dengan penanganan pasien Thalasemia di Banten, ini sudah berjalan tapi perlu diperbaharui dan ditingkatkan,” katanya.

Ia meminta kepada Dinkes Banten untuk menindaklanjuti hasil audiensi agar penderita Thalasemia Mayor mendapat akses layanan lewat BPJS kesehatan.

“Kita harus sama-sama membantu dengan mengkoordinasikan rumah sakit yang ada di Banten untuk bisa meng-cover penderita Thalasemia lewat BPJS Kesehatan,” tukasnya. (*/Ajo)

Karang Taruna Gerem
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien