Anggota DPR RI Ingatkan Pentingnya Etika dan Keamanan Data di Era Transformasi AI
SERANG – Perkembangan transformasi digital yang semakin pesat mendorong masyarakat untuk tidak hanya mengikuti kemajuan teknologi, tetapi juga memahami aspek etika dan keamanan data dalam pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR RI, Furtasan Ali Yusuf, dalam kegiatan kolaborasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Bimbingan Teknis Etika, Keamanan Data, dan Privasi dalam Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial yang digelar pada Minggu (5/4/2026).
Menurut Furtasan, teknologi AI kini telah mengubah berbagai sektor kehidupan secara signifikan, mulai dari pendidikan hingga layanan kesehatan.
Kemampuan AI dalam menyediakan informasi secara cepat memang memberikan banyak kemudahan, namun tetap memerlukan tanggung jawab moral dari para penggunanya.
“Teknologi tidak boleh digunakan secara sembarangan. Pemanfaatan AI harus memiliki landasan etika dan aturan yang jelas agar memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa merugikan pihak lain,” ujar pria yang akrab disapa Fay tersebut.
Ia menegaskan, meningkatnya penggunaan teknologi digital juga diiringi dengan lonjakan volume data yang beredar di ruang digital.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kebocoran data apabila tidak dikelola secara benar.
Fay mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam mengakses, menyimpan, maupun membagikan data pribadi.
Menurutnya, kesadaran mengenai perbedaan data publik dan data pribadi menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan informasi.
“Semakin besar data yang kita miliki, semakin tinggi pula potensi kebocoran. Karena itu, pengelolaan data harus mengikuti regulasi yang berlaku. Tidak bisa lagi sembarangan mengambil atau menyebarkan data orang lain,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa transformasi digital bukan hanya soal kecanggihan teknologi, tetapi juga berkaitan dengan kesiapan budaya digital masyarakat sebagai pengguna.
Sementara itu, pemateri kegiatan, Hanafi, menyoroti pentingnya memposisikan AI sebagai alat bantu produktivitas, bukan sebagai pengganti peran manusia sepenuhnya.
Menurutnya, penggunaan AI secara bijak dapat meningkatkan kinerja dan efisiensi dalam aktivitas sehari-hari, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan sosial.
“AI sebaiknya dipandang sebagai tools untuk mendukung performa kerja dan aktivitas harian. Teknologi ini harus dimanfaatkan secara cerdas agar memberikan nilai tambah,” jelasnya.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya etika digital, perlindungan privasi, serta keamanan data sebagai fondasi utama dalam menghadapi era kecerdasan buatan yang terus berkembang.***


