Keuangan Jamkrida Banten Rapuh, Direksi Diminta Lebih Terbuka
SERANG-Pengamat Ekonomi, Dosen sekaligus Peneliti, Profesor Bambang D. Suseno menilai keuangan PT Jaminan Kredit (Jamkrida) Banten rapuh.
Berdasarkan laporan keuangan tahun 2024 yang telah di audit, terjadi penurunan drastis pendapatan imbal jasa penjaminan dari Rp216,9 miliar menjadi hanya Rp54,4 miliar.
“Lebih dari sekadar angka, penurunan ini mengindikasikan gejala labilnya pilar utama pendapatan perusahaan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (25/6/2025).
Tak hanya itu, beban klaim yang melonjak menjadi Rp 41,1 miliar, nilai ini naik lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya, hal ini semakin menekan profitabilitas.
Akibatnya, Jamkrida Banten membukukan kerugian sebelum pajak sebesar Rp 848 juta dan rugi bersih Rp 1,19 miliar.
Ironisnya, di tengah kondisi keuangan yang merosot, perusahaan tetap membayarkan dividen sebesar Rp8,5 miliar.
“Kebijakan yang menuai tanda tanya besar, mengingat kondisi keuangan perusahaan idealnya tidak memungkinkan untuk pembagian dividen semacam itu,” katanya.
Kemudian dari sisi likuiditas, terjadi tekanan likuiditas yang semakin nyata saat menilik laporan arus kas.
Aktivitas investasi yang menghasilkan arus kas negatif sebesar Rp25,3 miliar, kata dia, menunjukkan bahwa penempatan dana dalam instrumen baru belum memberikan hasil optimal.
“Beban pun bertambah akibat arus kas pendanaan yang juga negatif, sebagian besar karena pembayaran dividen tersebut. Ini menjadi sinyal bahaya akan terbatasnya ruang gerak finansial perusahaan di masa depan,” ujarnya.
Lalu dari aset, sekilas, total aset Jamkrida Banten memang naik dari Rp593 miliar menjadi Rp682 miliar.
Namun, kenaikan ini lebih banyak disumbang oleh peningkatan aset tidak lancar dan piutang penjaminan ulang yang bersifat kurang likuid.
Di sisi lain, ekuitas menurun dari Rp78,9 miliar menjadi Rp77,9 miliar, menandakan akumulasi kerugian yang belum tertutupi.
“Kondisi semacam ini bisa diibaratkan sebagai bangunan megah dengan pondasi rapuh,” bebernya.
“Neraca perusahaan terlihat kokoh, tetapi rentan terguncang bila tekanan likuiditas atau risiko klaim meningkat secara tiba-tiba,” sambungnya.
Apabila tak segera dilakukan pembenahan secara menyeluruh, ia memprediksi Jamkrida Banten bisa terjebak dalam lingkaran penurunan yang lebih dalam.
“Reputasi sebagai pemain utama di industri penjaminan bisa luntur jika tren kerugian ini berlanjut,” ujarnya.
Dampak bisa sistemik, misalnya berkurangnya kepercayaan dari mitra, investor, dan bahkan pemerintah daerah, hal ini akan membatasi ruang ekspansi serta meningkatkan potensi intervensi eksternal.
Lalu dalam konteks pengembangan bisnis, situasi ini membawa efek domino yang menghambat berbagai lini, misalnya reputasi penjaminan kredit yang melemah akan mengikis kepercayaan pasar.
Merembet pada nama baik atau goodwill investasi penambahan equty belum nampak, menghambat diversifikasi produk, berlanjut pada inovasi layanan bisa tersendat.
“Terutama di sektor penjaminan sektor produktif untuk meningkatkan kapasitas UMKM dan transformasi digitalisasi,” kata Peneliti Pascasarjana Universitas Bina Bangsa itu.
Untuk saat ini, ia meminta agar jajaran Direksi Jamkrida Banten segera berbenah secara keseluruhan, mereka harus menunjukkan kepemimpinannya.
Peran direksi PT Jamkrida Banten kini menjadi sorotan utama. Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan bukan lagi soal rutinitas administratif, melainkan tentang keberanian mengambil langkah korektif yang strategis dan menyeluruh,” ujarnya.
“Tak kalah penting, transparansi dan komunikasi korporat harus ditingkatkan. Tidak cukup hanya menjawab kritik di balik meja, direksi harus tampil aktif menjelaskan kondisi perusahaan, strategi pemulihan, dan langkah-langkah yang sedang diambil,” tukasnya. (*/Ajo)

