Penjualan Baja Krakatau Steel Meningkat di 2018

Gerindra Nizar

CILEGON – Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk, Silmy Karim memaparkan, total volume penjualan produk baja perseroan selama Januari-September 2018, mencapai 1.595.260 ton. Jumlah tersebut naik 14,24 persen dari 1.396.422 ton secara year on year (YoY) dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Silmy juga mencatat, tren penjualan Hot Rolled-Coil atau HRC di 2018, meningkat sejak Maret yang mencapai 120.843 ton, Oktober sebanyak 127.005 ton, dan puncaknya pada November sebesar 189.702 ton.

“Tren positif ini diikuti oleh kenaikan harga jual produk baja sebesar 11 persen (YoY). Dari sisi kinerja keuangan, perseroan juga mengalami kenaikan pendapatan netto sebesar 22,71 persen (YoY), dan laba dan rugi yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas produk meningkat sebesar 50,19 persen (YoY),” kata Silmy dalam paparan publik di Gedung BEI, Jakarta, Jumat 4 Januari 2019.

Fraksi serang

Soal efisiensi, Silmy menjelaskan bahwa perseroan pun telah melakukan sejumlah langkah perbaikan kinerja operasional di Hot Strip Mill.

Hal itu terkait dengan peningkatan produktivitas pabrik, serta penghematan konsumsi energi, dan bahan consumables seperti konsumsi gas, listrik, dan work roll. Dengan total penghematan mencapai Rp593 miliar hingga November 2018.

Fraksi

“Selama Januari-September 2018, Krakatau Steel memiliki pangsa pasar Hot Rolled Coil sebanyak 40 persen, Cold Rolled Coil 24 persen, dan Wire Rod 7 persen. Sementara, sisanya adalah pangsa produsen domestik lain dan impor,” kata Silmy.

Dalam hal strategi pertumbuhan perseroan, Silmy menjelaskan bahwa sebagian besar proyek telah diselesaikan oleh Krakatau Steel Group. Termasuk, fasilitas Blast Furnace Complex yang telah beroperasi sejak 20 Desember 2018.

“Ini merupakan suatu awal dari rangkaian usaha perseroan untuk meningkatkan daya saing di sektor hulu, di mana fasilitas Blast Furnace merupakan teknologi berbasis batu bara,” ungkapnya.

“Penggunaan batu bara ini juga akan meningkatkan eksibilitas penggunaan energi, serta mengurangi ketergantungan terhadap gas alam yang diproyeksikan akan terus mengalami kenaikan harga dan keterbatasan,” tambah Silmy.

Diketahui, secara Compound Annual Growth Rate (CAGR), konsumsi baja domestik sejak 2009-2017 tumbuh sebesar 7,9 persen. Meski, sebagian kebutuhan baja masih dipenuhi oleh impor.

Selain itu, total defisit neraca perdagangan baja, menurut data Kementerian Perdagangan Republik Indonesia mencapai US$30,2 miliar selama lima tahun terakhir. (*/Viva)

Gerindra kuswandi