Wisata Anyer

Rapat Kerja UKO Unpam Kampus Serang: Antara Seremoni Tahunan dan Evaluasi yang Sesungguhnya

Oleh: Sahrul Hanafi, S.H., M.H.

Setiap tahun, Unit Kegiatan Olahraga (UKO) di Universitas Pamulang (Unpam) Kampus Serang punya satu agenda wajib yang namanya sudah tak asing: Rapat Kerja.

Slide presentasi dibuka, laporan pertanggungjawaban dibacakan, program kerja tahun depan disusun, lalu semua orang pulang dengan perasaan “tugas selesai”.

Tapi pertanyaannya, apakah Rapat Kerja UKO Unpam Kampus Serang benar-benar berfungsi sebagai ruang evaluasi, atau justru berubah menjadi seremoni tahunan yang formalitasnya jauh lebih besar daripada substansinya?

Ketika Evaluasi Berhenti di Atas Kertas

Salah satu isu yang paling sering luput dari perhatian adalah bagaimana hasil evaluasi diperlakukan setelah Rapat Kerja usai.

Di UKO Unpam Kampus Serang, tidak jarang pengurus rajin mencatat kekurangan program kerja tahun lalu—entah itu jadwal latihan yang bentrok, minimnya partisipasi dalam pertandingan antar-fakultas, atau anggaran peralatan olahraga yang tidak terpakai maksimal—rajin mendiskusikannya berjam-jam, tapi tidak pernah benar-benar menindaklanjutinya.

Catatan evaluasi berakhir di notulen, dan tahun berikutnya masalah yang sama muncul lagi dengan wajah yang berbeda. Kalau pola ini terus berulang, Rapat Kerja kehilangan fungsi paling mendasarnya: menjadi alat perbaikan, bukan sekadar ritual pelaporan.

Partisipasi yang Timpang

Isu lain yang tidak kalah penting adalah siapa yang sebenarnya berbicara dalam Rapat Kerja UKO Unpam Kampus Serang. Idealnya, forum ini menjadi ruang bagi seluruh anggota—baik dari cabang olahraga futsal, basket, badminton, voli, atau cabang lain di bawah UKO—untuk menyampaikan pandangan tentang arah organisasi ke depan.

Kenyataannya, suara yang dominan sering kali hanya datang dari ketua umum, pengurus inti, atau segelintir atlet senior yang “terbiasa bicara”.

Anggota lain, terutama anggota baru atau mereka yang mewakili cabang olahraga yang kurang populer, sering kali hanya menjadi peserta pasif yang mendengarkan tanpa merasa punya ruang untuk memberi masukan.

Padahal, program kerja yang lahir dari partisipasi yang timpang cenderung tidak mencerminkan kebutuhan seluruh cabang olahraga secara keseluruhan, melainkan hanya kepentingan atau sudut pandang segelintir pihak.

Program Kerja yang Disusun Tanpa Data

Persoalan berikutnya ada pada cara program kerja UKO Unpam Kampus Serang disusun untuk tahun mendatang. Tidak jarang program kerja dibuat berdasarkan kebiasaan, bukan berdasarkan data dan hasil evaluasi yang jelas.

Kegiatan tertentu—misalnya turnamen internal tahunan atau latihan rutin cabang tertentu—tetap dipertahankan bukan karena terbukti efektif, tapi karena “memang begitu dari dulu”.

Sebaliknya, kegiatan yang sebenarnya berdampak positif bagi minat dan prestasi olahraga mahasiswa kadang dihapus begitu saja karena dianggap merepotkan kepengurusan baru. Rapat Kerja seharusnya menjadi momen untuk menilai program kerja berdasarkan capaian nyata—jumlah peserta latihan, prestasi di kompetisi antar-kampus, dampak terhadap kebugaran dan kebersamaan anggota, hingga efisiensi anggaran—bukan sekadar berdasarkan kesan atau ingatan pribadi pengurus.

Rapat Kerja Bukan Sekadar Formalitas Regenerasi

Ada kecenderungan menganggap Rapat Kerja UKO Unpam Kampus Serang hanya sebagai jembatan administratif antara kepengurusan lama dan baru: laporan diserahkan, program kerja disahkan, selesai.

Padahal, forum ini semestinya menjadi titik krusial untuk menata ulang arah organisasi secara jujur, termasuk mengakui program latihan atau kompetisi yang gagal mencapai target, mengevaluasi kepemimpinan, dan membuka ruang kritik yang sehat dari seluruh cabang olahraga.

Ketika Rapat Kerja hanya diperlakukan sebagai formalitas serah terima, UKO kehilangan kesempatan emas untuk benar-benar tumbuh dari tahun ke tahun sebagai unit kegiatan olahraga yang solid di Unpam Kampus Serang.

Saatnya Rapat Kerja Diperlakukan Lebih Serius

Rapat Kerja bukanlah kegiatan yang buruk. Justru forum ini punya potensi besar untuk menjadi ruang refleksi yang sehat bagi UKO Unpam Kampus Serang, asalkan dijalankan dengan cara yang benar.

Evaluasi perlu disertai mekanisme tindak lanjut yang jelas dan bisa dipantau, bukan sekadar daftar catatan yang menguap begitu rapat selesai.

Partisipasi anggota dari semua cabang olahraga, terutama yang selama ini diam, perlu difasilitasi secara aktif, bukan dibiarkan tenggelam oleh suara segelintir pengurus. Dan program kerja ke depan sebaiknya disusun berdasarkan data dan capaian nyata, bukan sekadar kebiasaan yang diwariskan turun-temurun.

Jika hal-hal ini terus diabaikan, Rapat Kerja UKO Unpam Kampus Serang akan tetap menjadi agenda tahunan yang ramai secara seremoni namun kosong secara substansi.

Padahal, organisasi olahraga yang sehat justru lahir dari keberanian mengevaluasi diri secara jujur—bukan dari rapat yang berakhir manis di atas kertas, tapi mandek begitu saja di tahun berikutnya.

Penulis merupakan dosen dan Koordinator Penelitian di Program Studi Ilmu Hukum Universitas Pamulang (UNPAM) PSDKU Kota Serang, Banten

HUT Kota Serang DPMPTSP
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien