Harga Oli Motor Naik di Lebak, Ojol dan Kurir Mulai Keluhkan Biaya Operasional
LEBAK– Kenaikan harga oli motor mulai dirasakan para pekerja lapangan di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak. Kondisi tersebut dikeluhkan pengemudi ojek online hingga kurir ekspedisi yang setiap hari bergantung pada kendaraan roda dua untuk mencari penghasilan.
Beban pengeluaran yang semakin besar dinilai tidak sebanding dengan pendapatan harian yang justru cenderung menurun dalam beberapa waktu terakhir.
Yahi, salah seorang pengemudi ojek online di Rangkasbitung, mengaku harus mengurangi pemasukan hariannya demi melakukan perawatan rutin kendaraan. Menurutnya, penggantian oli tidak bisa ditunda karena motor menjadi alat utama untuk bekerja.
Namun kali ini, biaya servis ringan tersebut terasa jauh lebih berat dibanding biasanya.
“Harga oli sekarang naik lumayan tinggi. Yang biasanya sekitar Rp55 ribu, sekarang sampai Rp75 ribu,” ujarnya saat ditemui di kawasan pangkalan ojol.
Ia mengaku kondisi penumpang yang sedang sepi membuat kenaikan harga kebutuhan kendaraan semakin terasa. Dalam sehari, pendapatannya tidak selalu stabil, bahkan terkadang sulit mencapai target seperti sebelumnya.
“Sekarang cari penumpang juga lagi susah. Jadi kalau biaya motor naik, terasa banget,” katanya.
Keluhan serupa juga dirasakan para kurir pengantar paket yang setiap hari menempuh perjalanan cukup jauh menggunakan sepeda motor.
Ilham Kurniawan, salah satu kurir ekspedisi di Rangkasbitung, mengatakan dirinya tidak memiliki pilihan selain tetap membeli oli meski harga terus meningkat. Menurutnya, kerusakan motor justru akan membuat biaya yang dikeluarkan lebih besar.
“Motor dipakai kerja setiap hari, jadi mau tidak mau harus tetap dirawat,” ucapnya.
Selain oli, beberapa kebutuhan kendaraan lain seperti ban dan suku cadang juga disebut mulai mengalami kenaikan harga. Kondisi ini membuat biaya operasional pekerja lapangan semakin bertambah.
Sementara itu, pemilik bengkel motor di Rangkasbitung membenarkan adanya kenaikan harga pada sejumlah produk pelumas dan onderdil dalam beberapa pekan terakhir.
Jujun, pemilik bengkel di kawasan Rangkasbitung, menyebut kenaikan harga terjadi hampir di berbagai merek oli. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi beberapa faktor, termasuk nilai tukar rupiah dan distribusi barang.
“Bukan cuma oli, beberapa sparepart juga ikut naik,” katanya.
Ia menjelaskan, sebagian produk pelumas dan komponen kendaraan masih bergantung pada bahan baku maupun distribusi dari luar negeri, sehingga harga di pasaran ikut terdampak ketika kurs dolar mengalami perubahan.
Kondisi tersebut kini menjadi tantangan tersendiri bagi para pekerja sektor informal yang bergantung penuh pada kendaraan bermotor untuk mencari nafkah.
Di tengah pendapatan yang belum stabil, kenaikan biaya operasional membuat sebagian pekerja harus lebih ketat mengatur pengeluaran harian mereka. (*/Sahrul).


