Keluarga Perokok di Lebak Jadi Pemicu Tingginya Prevalensi Stunting
LEBAK – Tingginya prevalensi stunting atau kekerdilan pada anak di Kabupaten Lebak, Banten, disinyalir berkaitan erat dengan perilaku merokok dalam keluarga, yang berdampak langsung terhadap pemenuhan asupan gizi anak.
“Stunting itu bermula dari krisis gizi kronis, dan salah satu penyebabnya karena alokasi pengeluaran keluarga lebih banyak untuk rokok ketimbang makanan bergizi,” kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Lebak, Tuti Nurasiah di Lebak, Kamis (10/7/2025).
Menurut Tuti, kebiasaan merokok di kalangan keluarga berdampak signifikan terhadap menurunnya daya beli pangan bergizi, khususnya bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang sangat membutuhkan asupan nutrisi optimal.
Ia menambahkan bahwa meskipun belum ada data pasti yang menunjukkan korelasi kuantitatif antara perokok dan stunting, secara kasat mata, dampaknya terasa jelas di lapangan.
“Harga rokok di pasaran kini berkisar antara Rp15 ribu hingga Rp50 ribu per bungkus. Jika penghasilan harian keluarga hanya Rp50 ribu dan Rp20 ribu di antaranya digunakan untuk membeli rokok, maka hanya tersisa Rp30 ribu untuk kebutuhan makan harian. Nilai ini tentu tidak cukup untuk membeli lauk bergizi seperti ikan, telur, daging, maupun sayur,” paparnya.
Tuti mengungkapkan bahwa sebagian besar masyarakat miskin ekstrem di Lebak memang masih bisa memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan belum tergolong rawan pangan.
Namun, pengeluaran yang tidak tepat sasaran menjadi persoalan utama.
“Sayangnya, masih banyak keluarga yang mengutamakan belanja hal tidak esensial seperti rokok, daripada memenuhi kebutuhan gizi anggota keluarga, terutama anak-anak,” ujarnya.
Pemerintah daerah saat ini tengah menggiatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan gizi keluarga, khususnya dalam upaya percepatan penurunan stunting.
Menurut Tuti, pemenuhan gizi harian tidak selalu mahal jika dikelola dengan bijak.
“Kita dorong masyarakat memanfaatkan bahan pangan lokal bergizi tinggi dan terjangkau, seperti daun kelor, telur, dan ikan lele yang mengandung protein tinggi dan nutrisi penting,” ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, dr Firman Rahmatullah, mengimbau masyarakat dengan ekonomi terbatas untuk menghentikan kebiasaan merokok dan mengalihkan pengeluaran tersebut untuk pemenuhan gizi keluarga.
“Rokok tidak hanya menguras penghasilan, tapi juga berdampak buruk bagi kesehatan keluarga secara keseluruhan. Lebih baik uangnya dialokasikan untuk membeli pangan bergizi seperti ikan, telur, dan sayuran yang tinggi kandungan protein, vitamin, serta asam lemak omega-3 yang baik untuk pertumbuhan otak anak,” tegasnya.
Berdasarkan hasil intervensi serentak terhadap balita di tahun 2024, dari total 109.498 balita yang diukur, tercatat sebanyak 4.452 anak atau sekitar 4,07 persen terindikasi mengalami stunting.
Angka ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang berada di angka 4,8 persen.
Seluruh data tersebut telah terinput dalam aplikasi elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), dengan metode “by name by address” yang memastikan keakuratan data berdasarkan identitas individu.(*/Nandi)
