Puluhan Tahun Hidup dalam Keterbatasan, Ibu di Cibadak Lebak Rawat Anak Lumpuh Tanpa Sentuhan Bantuan Sosial

 

LEBAK – Di balik hiruk-pikuk pembangunan, masih ada kisah sunyi yang luput dari perhatian.

Salah satunya dialami Aisah, seorang ibu sederhana yang tinggal di Kampung Talun, Desa Panancangan, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak.

Bertahun-tahun hidup dalam kondisi serba kekurangan, keluarganya mengaku belum pernah merasakan bantuan sosial dari pemerintah.

Hari-hari Aisah dihabiskan untuk merawat putrinya, Arni Yuningsih (26), yang sejak lahir mengalami kelumpuhan.

Arni kini hanya bisa terbaring di rumah kecil yang jauh dari kata layak, dengan kondisi fisik yang semakin melemah seiring bertambahnya usia.

Kisah pilu ini disampaikan oleh Yogi Tamrin, tetangga sekaligus pemerhati sosial setempat.

Ia menuturkan, kondisi Arni kian memprihatinkan karena keterbatasan ekonomi keluarga membuat pengobatan tak bisa berlanjut.

“Bukan karena tidak mau berobat, tapi memang tidak mampu. Ibu Aisah sudah berusaha semampunya, namun biaya menjadi kendala utama,” ujar Yogi.

Menurut Yogi, saat ini kondisi tubuh Arni mulai mengalami kekakuan dan membutuhkan perawatan khusus.

Namun, kebutuhan dasar seperti kasur layak, popok, hingga asupan makanan bergizi masih menjadi persoalan sehari-hari.

Untuk bertahan hidup, Aisah berjualan gorengan keliling dengan berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lain.

Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus perawatan anaknya.

Sementara sang suami, Rahmat, bekerja sebagai sopir antar-jemput anak sekolah dengan pendapatan yang tidak menentu.

“Penghasilan keluarga ini sangat terbatas, sedangkan kebutuhan Arni tidak bisa ditunda. Pampers, makanan, dan perawatan harus dipenuhi setiap hari,” jelas Yogi.

Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, keluarga Aisah disebut belum pernah menerima bantuan sosial, baik berupa bantuan pangan maupun bantuan tunai. Hal itu membuat keluarga merasa terpinggirkan.

“Kalau melihat kondisinya, mereka sangat layak dibantu. Ini bukan soal mengeluh, tapi soal bertahan hidup,” katanya.

Melalui pemberitaan ini, Yogi berharap ada perhatian dari pemerintah daerah, instansi terkait, maupun para dermawan untuk turun langsung melihat kondisi keluarga Aisah.

Bantuan yang diharapkan tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan dan keberlanjutan hidup.

“Semoga ada kepedulian bersama. Keluarga ini tidak butuh belas kasihan, mereka butuh perhatian dan uluran tangan agar bisa hidup lebih layak,” pungkasnya. (*/Sahrul).

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien