Semangat Jurnalistik Sebagai Bentuk Perlawanan, Mengungkap Kebenaran di Tengah Tekanan
LEBAK – Jurnalistik adalah sebuah profesi yang sangat mulia karena dengan tulisan segala bentuk penindasan bisa terkuak.
Namun, di era sekarang profesi jurnalis sering disalah artikan bahkan ada segelintir orang yang fobia terhadap jurnalis.
Seyogyanya, jurnalis hanya ingin menyampaikan kebenaran dan ingin ada dijalan keabadian. Karena, dengan menulis akan menghasilkan karya-karya yang tidak akan pernah dilupakan.
Kemudian, di tengah arus informasi yang semakin cepat dan tekanan dari berbagai pihak, semangat jurnalistik harus tetap berkobar sebagai garda terdepan dalam menyuarakan kebenaran.
Wartawan bukan sekadar penulis berita, tetapi juga penjaga demokrasi yang berani melawan ketidakadilan, korupsi, serta berbagai bentuk penindasan terhadap masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir, tantangan bagi jurnalis semakin kompleks. Tidak hanya menghadapi ancaman hukum dan tekanan politik, tetapi juga dominasi media besar yang sering mengaburkan realitas di lapangan. Namun, semangat jurnalistik sejati tak bisa dibendung.
“Jurnalis harus tetap teguh, tak boleh takut terhadap tekanan. Jika kita mundur, maka yang berkuasa adalah kebohongan,” ujar seorang wartawan Muda asal Lebak, Sahrul Gunawan kepada Fakta Banten, Jumat (12/2/2025).
Jurnalisme bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga mengawal kebijakan publik, membongkar kasus penyalahgunaan kekuasaan, serta menjadi suara bagi mereka yang tertindas.
Dalam sejarahnya, jurnalistik selalu menjadi alat perlawanan terhadap ketimpangan sosial. Berbagai skandal besar, mulai dari korupsi pejabat hingga penyimpangan dalam kebijakan publik, berhasil terungkap berkat kerja keras para jurnalis yang tak gentar menghadapi risiko.
Namun, tantangan baru muncul di era digital. Serangan terhadap jurnalis kini bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga digital, seperti disinformasi, doxing, dan kriminalisasi terhadap karya jurnalistik.
“Kami tidak memiliki senjata, tapi kami punya pena dan keberanian. Jika ada yang berusaha membungkam pers, maka itu tanda bahwa ada sesuatu yang harus diungkap,” terangnya.
Agar tetap bertahan, jurnalis harus bersatu. Solidaritas antarwartawan dan media independen menjadi benteng utama dalam menghadapi upaya pendiskreditan terhadap pers.
Selain itu, menjaga independensi adalah hal yang tak bisa ditawar.
“Ketika pers independen, maka informasi yang sampai ke publik juga murni demi kepentingan rakyat, bukan kelompok tertentu,” kata Sahrul.
Semangat jurnalistik sebagai bentuk perlawanan bukan sekadar retorika. Ini adalah perjuangan nyata untuk memastikan bahwa masyarakat mendapatkan informasi yang akurat, transparan, dan berimbang.
Selama masih ada kebenaran yang harus disuarakan, selama itu pula semangat jurnalistik tak akan padam. (*/Sahrul).


