Iklan Banner

Taman Angklung di Cijoro Pasir Terlupakan, Aktivis Lebak Desak Perhatian Serius Pemerintah

Oong Ade HUT Gerindra

 

LEBAK– Ruang publik yang seharusnya menjadi wajah budaya dan ruang interaksi warga justru tampak seperti tak bertuan.

Taman Angklung yang berada di Kelurahan Cijoro Pasir, Kecamatan Rangkasbitung, kini menuai sorotan dari kalangan aktivis dan masyarakat karena kondisinya yang dinilai jauh dari kata terawat.

Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah fasilitas mengalami penurunan kualitas.

Cat monumen angklung terlihat memudar, sebagian area dipenuhi rumput liar yang menjulang, serta minim perawatan rutin yang seharusnya menjadi tanggung jawab pengelola.

Kondisi tersebut menimbulkan kesan kumuh dan mengurangi nilai estetika taman yang sebelumnya digadang-gadang sebagai ikon budaya lokal.

Seorang aktivis pemuda Lebak, Angga menilai, situasi ini mencerminkan lemahnya perhatian terhadap ruang publik berbasis seni dan budaya.

Menurutnya, taman angklung bukan sekadar ornamen kota, tetapi simbol identitas daerah yang seharusnya dijaga dan dirawat secara berkelanjutan.

Agil HUT Gerindra

“Ini bukan soal cat yang pudar atau rumput yang tinggi semata, tapi soal komitmen. Jika ruang budaya saja dibiarkan, lalu bagaimana dengan pembangunan karakter masyarakat?,” ujarnya, Selasa (3/2/2026).

Ia juga menyoroti potensi Taman Angklung yang seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai ruang edukasi, pertunjukan seni, hingga destinasi rekreasi ringan bagi warga.

Namun tanpa perawatan dan program yang jelas, potensi tersebut dinilai hanya akan menjadi wacana.

Warga sekitar pun menyampaikan harapan serupa. Mereka menginginkan taman kembali hidup, bersih, dan aman untuk dikunjungi, terutama oleh anak-anak dan generasi muda.

Keberadaan taman yang terawat diyakini mampu menciptakan rasa memiliki sekaligus kebanggaan terhadap lingkungan sendiri.

Para aktivis mendorong pemerintah daerah dan instansi terkait agar segera melakukan evaluasi dan langkah konkret, mulai dari perawatan fisik hingga pengelolaan jangka panjang.

Transparansi dan pelibatan masyarakat juga dianggap penting agar taman tidak kembali terbengkalai di kemudian hari.

Taman Angklung Cijoro Pasir kini berada di persimpangan: dihidupkan kembali sebagai ruang budaya yang bermakna, atau dibiarkan menjadi monumen sunyi yang perlahan dilupakan. Keputusan dan tindakan ada di tangan para pemangku kebijakan. (*/Sahrul).

Ade Hasbi HUT Gerindra
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien