Teguran JB Bukan Titah Keluarga, Ketua KNPI Lebak: Itu Alarm Moral untuk Pemimpin!

LEBAK– Pesan dari mantan Bupati Lebak dua periode, H. Mulyadi Jayabaya (JB), terkait evaluasi terhadap empat kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), terus menjadi perbincangan hangat publik.
Namun Ketua KNPI Kabupaten Lebak, Cucu Komarudin, memandang pernyataan tersebut bukan sebagai bentuk tekanan atau titah keluarga, melainkan peringatan etis yang sarat nilai edukatif bagi pemimpin daerah.
Menurut Cucu, JB bukan sosok sembarangan dalam dunia birokrasi. Selain memiliki pengalaman panjang memimpin Lebak, ia kini juga duduk di posisi strategis sebagai pimpinan di Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.
Maka dari itu, setiap pernyataannya dinilai punya bobot moral dan patut dijadikan cermin, bukan disalahartikan sebagai intervensi terhadap pemerintahan Bupati Hasbi Jayabaya.
“Sebagai anak muda, saya menilai apa yang disampaikan oleh Pak JB justru objektif dan bernilai edukatif. Beliau bukan hanya mantan bupati dua periode, tapi juga tokoh nasional yang punya rekam jejak panjang soal pemerintahan. Jadi wajar kalau beliau menyampaikan pandangan,” ujar Cucu saat diwawancarai, Kamis (29/5/2025).
Menanggapi anggapan yang menyebut bahwa pernyataan JB dapat memengaruhi psikologi Bupati Hasbi, Cucu justru menilai itu sebagai kekhawatiran yang terlalu berlebihan.

Ia meyakini bahwa Hasbi Jayabaya adalah figur pemimpin yang tangguh.
“Kita semua tahu, Pak Hasbi sudah dua kali menjadi anggota DPR RI. Itu bukan capaian kecil. Beliau tentu sangat siap menghadapi dinamika politik seperti ini, termasuk kritik dari siapa pun,” lanjutnya.
Cucu menekankan bahwa alih-alih dimaknai sebagai tekanan keluarga, pernyataan JB justru perlu dibaca sebagai sinyal moral dari seorang tokoh yang peduli terhadap arah pemerintahan.
“Pesan Pak JB itu bukan desakan, tapi alarm moral. Beliau ingin mengingatkan bahwa jabatan publik harus dijalankan dengan prinsip profesionalitas, regulasi yang tepat, dan keberpihakan kepada rakyat. Itu patut kita jadikan refleksi,” katanya.
Ia pun mengajak seluruh elemen pemuda dan masyarakat untuk tidak memperkeruh suasana dengan asumsi yang menyimpang.
Menurutnya, polemik ini seharusnya bisa menjadi bahan literasi politik yang mencerahkan, bukan menjadi bahan konflik sosial.
“Pak JB adalah bagian dari sejarah kemajuan Lebak. Pak Hasbi hari ini adalah pemimpin yang sedang mengemban tanggung jawab besar. Keduanya punya peran penting dan harus dihargai dalam kapasitas masing-masing,” tegas Cucu.
Cucu juga mengingatkan bahwa dalam demokrasi, kritik dan saran adalah hal biasa. Namun, tafsir publik yang keliru bisa menyesatkan jika tidak disikapi dengan dewasa dan bijak. (*/Sahrul).


