Medsos Petugas Haji Harus Bermuatan Edukasi atau Informasi Menenangkan untuk Jemaah dan Keluarga di Indonesia

MADINAH — Penyelenggaraan ibadah haji 2026 menghadirkan sejumlah pembaruan, terutama dalam pola komunikasi dan penyebarluasan informasi kepada jemaah.
Perubahan konsep ini diharapkan mampu mendukung kelancaran ibadah sekaligus menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi jemaah haji Indonesia di Tanah Suci.
Kabid Media Center Haji (MCH) PPIH Arab Saudi 2026, Ichsan Marsha, dalam apel pagi di Daerah Kerja Madinah, Selasa (28/4/2026), mengingatkan seluruh petugas untuk bijak dalam menggunakan media sosial.
Seiring dengan peningkatan layanan, aspek informasi dan edukasi menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan tahun ini.
Jemaah diharapkan tidak hanya mendapatkan pelayanan fisik, tetapi juga dukungan informasi yang memadai selama menjalankan rangkaian ibadah dan bisa membuat tenang keluarganya di tanah air.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menekankan pentingnya penyediaan konten edukatif yang berkelanjutan.
Konten tersebut diharapkan mampu membantu jemaah dalam memahami tata cara ibadah sekaligus menjalani aktivitas sehari-hari selama di Madinah maupun Makkah.
Dalam upaya tersebut, peran petugas haji menjadi sangat strategis, terutama dalam menyampaikan informasi yang benar dan membangun.
Media sosial pun dimanfaatkan sebagai salah satu kanal utama dalam menjangkau jemaah maupun masyarakat di tanah air.
Ia menekankan bahwa setiap konten yang diunggah harus memiliki nilai edukatif serta mampu memberikan dampak positif bagi publik.
Dengan demikian, informasi yang tersebar tidak hanya informatif, tetapi juga menenangkan.
“Publik bisa melihat apa yang kita sampaikan di ruang publik sebagai sebuah edukasi dan kebaikan,” ujarnya, Selasa (28/4/2026),
Menurutnya, narasi yang dibangun melalui media sosial harus sejalan dengan upaya mewujudkan penyelenggaraan haji yang berkualitas dan berorientasi pada pelayanan.

Terkait hal tersebut, Ichsan Marsha kembali menegaskan pentingnya peran petugas dalam menyampaikan informasi layanan kepada masyarakat luas.
“Kita diminta selain memberikan pelayanan juga untuk mensyiarkan layanan kita,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa akun resmi sektor diharapkan mampu memprioritaskan penyebaran narasi positif, khususnya terkait program haji yang ramah bagi lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas.
Langkah ini dinilai penting untuk memberikan rasa aman dan ketenangan bagi keluarga jemaah yang berada di Indonesia. Informasi yang jelas dan positif akan menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara jemaah dan keluarga.
Selain itu, upaya ini juga menjadi strategi untuk mencegah munculnya mis-informasi yang berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Jika kita tidak bisa memberikan informasi secara utuh dan terang benderang, kita cukupkan diri untuk tidak mengunggah hal tersebut,” jelasnya.
Ichsan menegaskan bahwa petugas dilarang keras menyebarkan informasi yang tidak lengkap atau berpotensi menimbulkan persepsi negatif di ruang publik.
Ia menilai, konsistensi dalam menyampaikan informasi yang benar merupakan bagian dari komitmen pelayanan kepada jemaah.
Lebih lanjut, Ichsan menyampaikan bahwa integritas dan kedisiplinan petugas menjadi faktor kunci dalam mewujudkan penyelenggaraan haji yang sukses.
Setiap petugas dituntut untuk menjaga profesionalisme serta memastikan setiap langkah pelayanan dilakukan secara terukur dan penuh tanggung jawab.
Dengan pendekatan tersebut, diharapkan jemaah dapat merasakan perlindungan dan kenyamanan selama menjalankan seluruh rangkaian ibadah.
Di akhir arahannya, Ichsan memberikan motivasi kepada seluruh petugas agar tetap berfokus pada tujuan utama pelayanan haji.
“Orientasi kita sama untuk pelayanan terbaik bagi jemaah haji Indonesia,” pungkasnya.
Melalui sinergi antara pelayanan dan penyebaran informasi yang edukatif, penyelenggaraan haji 2026 diharapkan mampu berjalan sukses serta memberikan pengalaman ibadah yang lebih baik bagi seluruh jemaah Indonesia. (*/ARAS)


