Pemburuan Liar Incar Gading Gajah Kembali Mengancam
FAKTA BANTEN – Lembaga Swadaya Masyarakat Wildlife Conservation Societies (WCS) mencatat selama 2017 sampai 2018 ditemukan gajah mati sebanyak 5 ekor yang ditemukan mati di dalam kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).
Pada tahun 2017 empat ekor gajah mati, satu gajah betina dan tiga ekor tidak diketahui jenis kelaminnya karena tersisa tulangnya. Terbaru, pada 2018 ini, satu ekor gajah betina berusia sekitar 20 tahun ditemukan mati di wilayah resor III Kuala Penet TNWK pada Senin (12/2/2018) pagi.
Kematian gajah ini, WCS menduga akibat dari pemburuan liar yang mengincar gading dan gigi gajah.
Aktivis WCS Lampung Timur Sugio mengatakan, saat ditemukan gigi dan caling (gading gajah betina) gajah ini hilang. Di bagian kepala dan dada gajah liar ini ditemukan beberapa bekas luka tembak.
“Kalau melihat gajah yang ditemukan mati umumnya rusak di bagian kepalanya, hilang gigi dan gadingnya. Kuat dugaan gajah-gajah ini mati karena diburu. Dari jumlah gajah yang mati itu kebanyakan betina,” katanya.
Sugio tidak memungkiri perburuan gajah di TNWK masih sering terjadi jika melihat banyaknya gajah yang ditemukan mati secara tidak wajar setiap tahunya di kawasan hutan TNWK.
Bahkan menurut dia, tidak hanya satwa gajah yang diburu, tapi satwa kunci lainnya seperti harimau, badak, beruang dan tapir juga terancam diburu, termasuk rusa dan burung juga menjadi incaran pemburu.
Motif pemburu tersebut bisa karena faktor ekonomi ataupun hobi.
“Penyebab maraknya perburuan itu karena banyaknya celah masuk bagi para pemburu ke dalam hutan TMWK mengingat topografi hutan Way Kambas yang datar, berdampingan dengan pemukiman penduduk dan berbatasan dengan laut sehingga petugas kesulitan mengawasinya,” jelasnya.
Ditambah lagi faktor minimnya petugas Polisi Hutan di Balai TNWK yang tidak sebanding dengan luas hutannya.
Sugio menyatakan, perlu koordinasi yang kuat antar semua instansi, peningkatan patroli bersama, penegakan hukum yang tegas kepada para pelaku agar peristiwa perburuan gajah dan satwa lain di Way Kambas tidak terulang kembali. (*/Antara)

