Isu dan Solusi Bermain Anak Usia Dini di Masa Pandemi Covid-19

Pju

Oleh: Pepy Mulyani, Mahasiswi UPI Bandung

Diawal tahun 2020 semua negara bahkan dunia digegerkan dengan wabah Covid-19. Virus ini menimbulkan keresahan yang menakjubkan dengan penjangkitan yang amat cepat. World Health Organization (WHO) mengabarkan covid-19 merupakan pandemic yang menghantam seluruh negara dan dunia harus mewaspadainya.

Untuk pemutusan rantai Covid-19 masyarakat wajib mematuhi aturan kesehatan serta menerapkan social distancing dan juga physical distancing. Termasuk tidak mengadakan perjalanan jauh ke luar ataupun berjalan- jalan. Bisa keluar rumah dengan alasan khusus yang genting dengan peringatan menerapkan perlindungan diri serta menaati aturan kesehatan (Fadlilah, 2020).

Penerapan peraturan menjaga jarak ataupun pemisahan jarak antara individu berdampak imbas pada bidang pendidikan terkhusus pada bidang pendidikan anak usia dini.
Pendidikan terkena dampaknya dengan mengikuti peraturan kegiatan belajar mengajar harus dilaksanakan dirumah.

Belajar dari rumah melalui pembelajaran jarak jauh daring dan atau luring dilaksanakan sesuai dengan pedoman penyelenggaraan Belajar dari Rumah (Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2020). Dengan terdapatnya peraturan pemerintah buat belajar dirumah, pembelajaranpun dilaksanakan dengan online melalui googel from, whatshap, zoom, webex. Googel class dan yang lainnya tanpa ada tatap muka.

Perihal ini amat mengacaukan aktivitas belajar terkhusus dalam dunia pembelajaran anak usia dini, sebab pembelajaran anak usia itu sering diistilahkan dengan belajar sambil bermain. Tapi dalam situasi kondisi seperti ini belajar sambil bermain jadi terkendala.

Saat sebelum covid 19 bermain bisa dilakukan dengan cara leluasa tanpa ada batas dan penyekat apapun. Tapi selama datangnya wabah covid 19 semuanya jadi berubah dan bermain tidak bisa dilakukan lagi secara bebas seperti sebelumnya.

Dari hasil pengamatan contoh kasus di sekolah TK Mega Mendung isu bermain ini menjadi bahan perbincangan orang tua dan guru karena belajar melalui daring atau online bermain anak jadi terabaikan. Anak merasa jenuh dan anak merasa tidak bebas karena kegiatan bermain dirumah berbeda dengan bermain di sekolah. Jika bermain di sekolah mereka punya banyak teman dan dapat memilih permainan yang mereka inginkan.

Membuat analisis dengan menggunakan persfektif teori/konsep yang dipilih
Bermain merupakan kebutuhan setiap anak, karena pada dasarnya bermain dapat membentuk anak memiliki rasa ingin tahu dan dapat meningkatkan aspek perkembangan anak. Bermain merupakan kegiatan yang sangat mempengaruhi semua aspek perkembangannya, meliputi perkembangan bahasa, nilai moral agama, fisik motorik, seni, kognitif serta social emosional (Wiwik Pratiwi, 2017).

Bermain dirumah dimasa pandemic berbeda hasilnya dengan bermain langsung dengan guru disekolah sebelum masa pandemic. Bermain dengan pengawasan guru pasti tidak akan sama kemajuannya dengan bermain biasa, karna guru membuat serta menghasilkan aktivitas main sebagai perlengkapan buat meningkatkan keahlian serta keterampilan pada diri anak (Khadijah & Gusman, 2020).

Oleh sebab itu, anak memerlukan bermain buat membebaskan tenaga, kebutuhan, keinginan dan penyaluran emosi pengetahuan yang terpendam.

Bermain dengan anak lain mempengaruhi cara anak untuk bersosialisasi dengan teman yang lain, mereka dapat berbagi mengembangkan keterampilan mereka, mereka bisa saling bekerja sama dan saling membantu untuk memecahkan suatu masalah dalam permainan.

Perilaku sosial emosional memperlihatkan keterampilan untuk bersosialisasi, mengerti diri sendiri dan perasaan yang lain, dapat mengekspresikan perasaan, meredam hawa nafsu dan bersimpati kepada orang lain (Gusti Ayu Padmi, 2014). Bila anak hanya berdiam diri di rumah, tidak dapat berjumpa serta bermain dengan sahabatnya, energi serta perasaannya tidak mampu tercurahkan, mereka tidak merasa bebas dan mereka tidak bisa bereksplorasi serta bereksperimen dengan kemampuan mereka.

Anak dapat bereksperimen dan mengembangkan rasa ingin tahu mereka melalui bermain, karena rasa ingin tahu anak itu begitu tinggi. Melalui bermain mereka dapat menumbuhkan rasa ingin tahu mereka (Fauzi & Atok, 2017).

Bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan mengembangkan imajinasi anak permainan dapat memberi peluang kepada anak untuk mengembangkan rasa ingin tahunya, untuk melakukan dan membuat suatu kreasi dari permainan itu dengan kemampuannya sendiri (Holis, 2016).

Untuk melakukan dan membuat suatu kreasi membutuhkan aktivitas fisik karena aktivitas fisik dimasa kanak-kanak sangat penting karena adanya hubungan langsung antara aktivitas fisik dengan kesehatan anak. Bermain aktif adalah jenis aktivitas fisik yang paling umum dilakukan anak-anak diluar sekolah dan bermain diluar ruangan dan tidak terstruktur mungkin merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik terbaik anak (Gleave & Cole-hamilton, 2012).

Solusi/program yang ditawarkan untuk mengatasi kasus tersebut
Berdasarkan penjelasan di atas jelas bahwa Kebutuhan akan permainan dan bermain sangatlah nyata bagi perkembangan anak. Dimanapun dan dalam situasi apapun anak tetap akan butuh bermain karena bermain merupakan kebutuhan anak yang tak bisa ditinggalkan (Eliasa, 2018).

Orang tua, guru dan lingkungan sekitar perlu memfasilitasi dan menyediakan berbagai alat dan bahan untuk permainan yang dapat mendukung perkembangan anak. Guru didorong untuk menciptakan lingkungan kelas dan memberikan cukup waktu untuk mendukung aktivitas anak-anak secara spontan, tetapi menjadi mitra yang terampil sendiri ketika mereka diperlukan untuk membantu anak-anak selama improvisasi bermain (Johnson et al., 2013).

Selama masa pandemic ini peran guru disini sangat dibutuhkan terutama orang tua yang ada dirumah. Jadi guru dan orang tua harus bersama-sama bekerjasama.
Guru serta orang tua pada hakikatnya bersama sebagi guru ataupun pembimbing, cuma saja keduanya mempunyai kedudukan yang berbeda, guru sebagai pengajar di sekolah, sebaliknya orang tua sebagai pembimbing di rumah.

Dengan mewabahnya virus Covid- 19, mewajibkan keduanya untuk lebih ekstra lagi dalam bertindak serta banyak pekerjaan yang semestinya dilakukan oleh guru saat ini berganti pada orang tua dirumah (Khadijah & Gusman, 2020). Orang tua dirumah sekarang menjadi fasilitator untuk memfasilitasi anak-anak untuk berkomunikasi dengan guru. Guru dan orang tua hendaklah dapat menyusun dan menciptakan permainan-permainan yang menyenangkan untuk anak selama belajar dirumah.

Bermain itu mengasyikkan serta dicoba dengan cara- cara yang mengasyikkan untuk anak dan semata-mata karena keinginan dari diri mereka sendiri (Farikhah, Siti, 2018). Di dalam main, anak tidak berasumsi perihal hasil sebab proses lebih berarti dari pada tujuan akhir.

Untuk solusi program permainan yang cocok untuk anak selama masa pandemic ini yaitu dengan menggunakan media pembelajaran Loose Part. Media pembelajaran Losse Part yaitu media pembelajaran yang memanfaatkan benda-benda yang ada disekitar lingkungan rumah.

Pemilihan media Loose Part juga diperoleh dari berbagai sumber dilingkungan sekitar yang terdekat dengan anak (Wahyuningsih et al., 2020). Selain itu mereka juga bisa memanfaatkan barang-barang bekas yang dapat didaur ulang dan dijadikan media pembelajaran selama pandemic covid 19. Contoh media pembelajaran loose part yaitu ranting, daun-daun, botol, potongan kayu, kardus, kerikil, batu, sendok, wadah-wadah bekas, dan yang lainnya yang ada. Hal ini akan memudahkan orang tua, karena media pembelajaran menggunakan bahan yang ada disekitar rumah.

Permainan yang bisa dilakukan dengan media pembelajaran loose part atau bahan yang diperoleh dari lingkungan sekitar adalah contohnya dari peralatan dapur, anak dapat bermain dengan mengenal bentuk sesuai warna dan ukuran benda, anak bisa bermain alat music, anak dapat menyusun pola. Dari bahan gelas air mineral, anak dapat bermain membuat gedung atau menara yang tinggi.

Dengan alat dan bahan boneka anak dapat bermain drama. Dari bahan peralatan kamar mandi anak dapat bermain dengan membuat gelembung dan membuat busa yang panjang. Dari tanaman yang ada dihalaman anak dapat bermain dengan menghitung jumlah tanaman dan dapat menyiram tanaman. Sebenarnya masih banyak permainan-permainan yang lain yang dapat dilakukan anak selama dirumah, agar anak merasa tidak bosan.

Bermain hendaknya disesuaikan dengan minat dan kebutuhan anak (Zaman, 2017). Orang tua dan guru harus bekerja sama menjadi motivator dan fasilitator dalam menciptakan media permainan yang terjamin keselamatannya serta menyenangkan bagi anak supaya anak merasa tidak bosan selama dirumah.

Orang tua diharapkan selalu bercakap-cakap dengan anak, tidak memaksakan anak apabila anak tidak berminat untuk bermain, mengajak anak untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti menyapu, memasak membersihkan tempat tidur dan kegiatan yang lainnya, membebaskan anak untuk memilih permainan dan menemukan serta mempelajari sesuatu yang ingin anak ketahui dan damping anak ketika anak sedang membutuhkan. (***)

Royal wedding