Ketum Jaros 24: Halal Bihalal dan Budaya Konsolidasi Bangsa

 

Oleh: Hasanudin, Ketum Jaringan Organ Santri (Jaros) 24

 

FAKTA – Seusai umat Islam berpuasa Ramadhan sebulan penuh, saatnya selebrasi merayakan kemenangan dengan kembali ke potensi kefitrian/kesucian jiwa dan ruh.

Menikmati ragam sajian tradisi bersama keluarga. Melakukan acara halal bihalal. Tradisi khas Indonesia untuk saling meminta maaf dan memberi maaf.

Membebaskan jiwa dan ruhani dari segala beban dan dosa sehingga merasa lapang, ringan dan bahagia saat berlebaran.

Menurut salah satu versi sejarawan, bahwa arti dan latar belakang lahirnya tradisi HALAL BIHALAL itu diciptakan dan dirumuskan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah (Ulama pendiri Nahdlatul Ulama).

Dimaknai sebagai aktivitas saling memaafkan, KH Abdul Wahab Hasbullah mengusulkan kepada Soekarno selaku Presiden.

Advertorial

Advertorial

Agar momentum pada hari Raya Iedul Fitri tahun 1948, dijadikan media konsolidasi para pemimpin bangsa yang sedang berkonflik dengan mengundang mereka untuk menghadiri acara halal bihalal di Istana Negara agar para elit bangsa bisa saling memaafkan dan melupakan masalah perselisihan antar mereka demi terciptanya konsolidasi dan integrasi bangsa dan negara.

Sangat dibutuhkan oleh negara Indonesia yang sedang berperang melawan kegigihan penjajah yang ingin kembali merebut kemerdekaan dan kedaulatan negara Indonesia yang sudah merdeka.

Sungguh sebuah peristiwa yang mencerminkan kerjasama yang sangat solid antara kalangan ISLAM (KH Abdul Wahab Hasbullah) dengan kalangan NASIONALIS (Soekarno) dalam memperjuangkan dan mempertahankan keutuhan integrasi bangsa Indonesia yang besar.

Dalam rangka menginternaliasi spirit konsolidasi itu, maka Jaros (Jaringan Organ Santri) 24 berikhtiar memanfaatkan momentum halal bihalal untuk merekatkan, mengkonsolidasi segenap komponen kekuatan santri agar terjadi kolaborasi sinergis untuk mencapai tujuan bersama yakni optimaliasi seluruh potensi santri sehingga dapat terakomodir di berbagai sektor kehidupan; ekonomi, sosial, politik, eksekutif, legislatif dan lain-lain.

Dalam jagad konstalasi persaingan domestik dan global mutakhir, tak ada entitas yang bisa masuk ke ruang ragam sektor kehidupan tanpa konsolidasi kekuatan berbasis kolaborasi sinergis.

Menyingkirkan mentalitas ego sektoral yang sering menjerumuskan pada semangat konfrontatif dan fragmentatif. Menghabiskan umur dan energi dalam sebuah kesia-sian.

Untuk itu maka Jaros 24 memilih ikhtiar, berusaha menciptakan iklim untuk tumbuhnya semangat kolaboratif sinergis agar semua ragam potensi dan kapabilitas santri berkembang optimal dan terserap di ragam sektor kehidupan, tidak menumpuk ‘berjamah’ di sektor ruang ibadah mahdhoh di masjid, mushola dan lembaga keagaman semata.

Ini sejalan denga petuah Maulana KH Ahmad Rifai Arief, “Jadilah kalian layaknya ikan hidup. Jangan jadi ikan mati!”. Karena jika bersikap seperti ikan hidup. (*/Faqih)