Negara Palestina Awalnya Serupa Negara Indonesia

Hut bhayangkara

Oleh: Benz Jono Hartono

Palestina Awalnya Serupa Indonesia
Palestina, sebuah wilayah di Timur Tengah, memiliki sejarah panjang dan kompleks yang sering kali diabaikan dalam percaturan politik internasional. Sama seperti Indonesia, yang pernah dijajah oleh berbagai bangsa sebelum meraih kemerdekaannya pada tahun 1945, Palestina juga memiliki sejarah yang panjang sebagai sebuah entitas dengan identitas nasional yang kuat.

Sejarah Awal Palestina
Palestina memiliki sejarah yang kaya dan beragam yang dapat ditelusuri hingga ribuan tahun sebelum Masehi. Wilayah ini merupakan pusat peradaban kuno dan menjadi tempat berbagai kerajaan dan kekaisaran besar seperti Mesir Kuno, Asyur, Babel, dan Persia. Sama seperti Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan kebudayaan yang beragam, Palestina juga dihuni oleh berbagai kelompok etnis dan religius, termasuk Kanaan, Filistin, dan berbagai komunitas Yahudi dan Kristen.

Perjuangan Melawan Penjajahan
Seperti Indonesia yang dijajah oleh Portugis, Spanyol, Belanda, dan Jepang, Palestina juga mengalami berbagai bentuk penjajahan. Pada abad ke-20, Palestina berada di bawah mandat Inggris setelah jatuhnya Kekaisaran Ottoman. Selama periode ini, Palestina mengalami migrasi besar-besaran kaum Yahudi yang melarikan diri dari Eropa, terutama karena meningkatnya anti-Semitisme dan Holocaust.
Indonesia berjuang melawan penjajahan Belanda selama lebih dari tiga setengah abad sebelum akhirnya memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Demikian pula, Palestina memiliki sejarah panjang perjuangan melawan penjajahan dan pendudukan. Pada tahun 1948, setelah berakhirnya mandat Inggris dan pembentukan negara Israel, wilayah Palestina mengalami perubahan besar dengan pengusiran dan perpindahan penduduk Palestina yang dikenal sebagai Nakba (bencana).

Proklamasi dan Pengakuan Negara
Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, meskipun perjuangan untuk mendapatkan pengakuan internasional dan kedaulatan penuh baru tercapai beberapa tahun kemudian. Palestina juga telah berusaha untuk mendapatkan pengakuan sebagai negara merdeka. Pada tahun 1988, PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) mendeklarasikan kemerdekaan Palestina, dan saat ini lebih dari 130 negara telah mengakui Palestina sebagai sebuah negara. Namun, perjuangan Palestina untuk mendapatkan kedaulatan penuh dan kemerdekaan dari pendudukan masih berlanjut hingga hari ini.

Toleransi dan Moderasi Beragama yang Baik
Palestina, wilayah yang terletak di jantung Timur Tengah, dikenal sebagai tanah suci bagi tiga agama besar dunia: Islam, Kristen, dan Yahudi. Di tengah ketegangan politik dan konflik yang berkepanjangan, umat Muslim di Palestina menunjukkan contoh yang luar biasa dalam hal toleransi dan moderasi beragama.

Toleransi dalam Kehidupan Sehari-hari
Umat Muslim di Palestina hidup berdampingan dengan umat Kristen dan Yahudi dalam suasana yang penuh dengan penghormatan dan toleransi. Di berbagai kota seperti Jerusalem, Bethlehem, dan Ramallah, dapat ditemukan masjid, gereja, dan sinagoga yang berdiri berdekatan. Hal ini mencerminkan betapa kuatnya nilai-nilai toleransi di kalangan masyarakat Palestina. Pada hari-hari besar keagamaan, umat Muslim seringkali memberikan ucapan selamat kepada saudara-saudara mereka yang beragama Kristen atau Yahudi, dan sebaliknya. Kebersamaan ini tidak hanya terjadi di level masyarakat umum tetapi juga di kalangan pemimpin agama yang secara aktif mengadakan dialog antaragama untuk membangun pemahaman dan kerjasama.

Loading...

Moderasi dalam Praktik Keagamaan
Moderasi beragama atau sering disebut sebagai “Islam Wasathiyah” menjadi prinsip yang dipegang teguh oleh umat Muslim di Palestina. Prinsip ini mengajarkan keseimbangan, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan. Di Palestina, para ulama dan cendekiawan Muslim secara aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan dalam beragama, menghindari ekstremisme, dan menghargai hak-hak beragama orang lain.

Lembaga-lembaga pendidikan di Palestina, termasuk sekolah-sekolah dan universitas, memainkan peran penting dalam menanamkan nilai-nilai moderasi ini. Kurikulum pendidikan mencakup ajaran tentang pentingnya hidup berdampingan secara damai dan menghargai keragaman. Program-program ini didukung oleh berbagai organisasi non-pemerintah dan internasional yang bekerja sama untuk mempromosikan perdamaian dan toleransi di wilayah tersebut.

Dialog Antaragama dan Kerjasama
Salah satu contoh nyata dari moderasi dan toleransi umat Muslim di Palestina adalah adanya forum-forum dialog antaragama. Di sini, para pemimpin dari berbagai agama berkumpul untuk mendiskusikan cara-cara mempromosikan perdamaian dan pemahaman antar umat beragama. Dialog ini tidak hanya berfokus pada aspek teologis tetapi juga pada isu-isu sosial, ekonomi, dan politik yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat Palestina.

Selain itu, berbagai proyek kemanusiaan yang melibatkan kerjasama antaragama menunjukkan komitmen umat Muslim di Palestina dalam mempromosikan kesejahteraan bersama. Misalnya, proyek-proyek bantuan kemanusiaan seringkali melibatkan kerjasama antara berbagai komunitas agama untuk membantu mereka yang membutuhkan, tanpa memandang latar belakang agama mereka.

DPRD Pandeglang

Umat Muslim di Palestina memberikan contoh yang menginspirasi tentang bagaimana toleransi dan moderasi beragama dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, nilai-nilai ini tetap menjadi landasan yang kuat dalam membangun masyarakat yang damai dan harmonis. Dengan terus mempromosikan dialog antaragama dan kerjasama, umat Muslim di Palestina tidak hanya menjaga kedamaian di wilayah mereka tetapi juga memberikan harapan bagi dunia tentang kemungkinan hidup berdampingan secara harmonis di tengah perbedaan.

Penutup
Meskipun konteks dan tantangannya berbeda, ada banyak kesamaan dalam perjalanan sejarah Indonesia dan Palestina. Keduanya adalah bangsa yang memiliki identitas kuat, sejarah panjang, dan pengalaman pahit di bawah penjajahan. Perjuangan mereka untuk kemerdekaan dan kedaulatan menunjukkan betapa kuatnya keinginan untuk hidup dalam damai dan merdeka. Seperti Indonesia yang akhirnya merdeka dan berdaulat, harapan dan doa kita adalah agar Palestina juga dapat menikmati kemerdekaan dan kedamaian yang sama suatu hari nanti.

Tulisan ini mencerminkan betapa kuatnya semangat dan perjuangan kedua bangsa untuk mencapai kemerdekaan, meskipun melalui jalan yang panjang dan berliku.

Penulis adalah Praktisi Media Massa
Direktur Lembaga Kajian Pers Nasional di Jakarta

Ks rc
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien