Membaca “Protocol of Zion”, Blueprint Zionis Untuk Menguasai Dunia (Resensi Buku)

Gerindra Nizar

 

Oleh Aat Surya Safaat*

Indonesia konsisten mendukung perjuangan bagi kemerdekaan Palestina. Indonesia juga selalu siap memberikan dukungan agar Palestina menjadi anggota penuh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebagaimana disampakan Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Sidang Majelis Umum (SMU) PBB September lalu.

Fraksi serang

Penegasan dukungan Indonesia terhadap Palestina itu disampaikan oleh Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri RI Bagus Hendraning Kobarsyih pada Penutupan Bulan Solidaritas Palestina yang digelar Aqsa Working Group (AWG) di Aula Buya Hamka Masjid Al-Azhar Jakarta.

Dalam kaitan itu ia menekankan pentingnya persatuan di kalangan internal Palestina, dan Indonesia siap memfasilitasi rekonsiliasi faksi-faksi yang ada di Palestina, yaitu Faksi Hamas dan Fatah yang sejatinya sama-sama berjuang bagi kemerdekaan Palestina.

Ditegaskannya pula bahwa Indonesia dan Palestina adalah sahabat dekat, dan Palestina adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia yang kemudian diikuti sembilan negara Arab lainnya serta puluhan negara lain di luar Timur Tengah.

Pada kesempatan yang sama, Pemuka Agama Romo Franz Magnis Suseno menegaskan, perdamaian di Timur Tengah hanya mungkin dapat terwujud jika Palestina merdeka, sehingga kemerdekaan Palestina adalah sebuah keniscayaan.

Ia juga menyatakan tidak setuju Yerusalem menjadi ibu kota Israel serta mengemukakan usulan yang pernah disampaikan Vatikan yaitu perlunya Yerusalem ditetapkan sebagai kota suci bagi tiga agama (Islam, Yahudi, dan Kristen) yang berada dibawah pengawasan internasional.

Politik Apartheid

Terkait penjajahan Israel atas Palestina, Direkur Kantor Amnesty International di Jerusalem Saleh Hijazi baru-baru ini menyatakan bahwa Pemerintah Zionis Israel telah menerapkan politik apartheid di Palestina.

Apartheid itu sendiri merupakan politik yang diterapkan untuk membedakan perlakuan terhadap ras dan suku, dalam hal ini membedakan warga Palestina dengan warga Israel, dimana warga Israel mendapat hak istimewa dibanding warga Palestina.

Apartheid adalah suatu kejahatan terhadap kemanusiaan sebagaimana didefinisikan dalam Statuta Roma dan Konvensi Apartheid, dan kekerasan demi kekerasan yang dilakukan rezim Zionis Israel di Palestina hingga kini menggambarkan sistem apartheid Israel yang memungkinkan berlanjutnya kekerasan negara tanpa hukuman.

Laporan Amnesty International setebal 182 halaman yang diumumkan 2 Februari 2022 juga menemukan bukti-bukti yang memberatkan bahwa Israel harus dimintai pertanggungjawaban karena melakukan kejahatan apartheid terhadap warga Palestina.

Dalam kaitan ini, Amerika dan negara-negara Eropa menerapkan politik standar ganda. Negara-negara Barat itu segera menerapkan sanksi terhadap Russia yang melakukan penyerangan ke Ukraina, tetapi mereka tidak melakukan pembelaan apapun kepada rakyat Palestina yang terus-menerus menerima kekejaman tentara Zionis Israel.

Khusus bagi bangsa Indonesia, Palestina sendiri tercatat dalam sejarah telah berjasa besar bagi kemerdekaan Indonesia karena bangsa Palestinalah yang pertamakali mengakui kemerdekaan Indonesia yang kemudian diikuti oleh Mesir dan negara-negara Arab lainnya serta negara-negara di luar Timur Tengah.

Fraksi

Setahun sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada 6 September 1944, Mufti Besar Palestina Syekh Muhammad Amin Al-Husaini memberikan dukungan secara terbuka bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Setelah Proklamasi Kemerdekaa Indonesia, Syekh Al-Husaini atas nama bangsa Palestina mengakui Kemerdekaan RI sebagaimana dikemukakannya dalam siaran radio berbahasa Arab dari persembunyiannya di Jerman yang kemudian disiarkan media massa secara luas.

Sementara di sisi lain Palestina sendiri adalah satu-satunya negara di dunia yang belum terbebas dari penjajahan sejak pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955.

Buku Imaam Yakhsyallah Mansur

Khusus berbicara tentang pendudukan Zionis Israel terhadap Palestina, siapa yang tak kenal Imaam Yakhsyallah Mansur? Ulama dan pendidik ini adalah satu di antara penulis produktif yang konsisten membela perjuangan bagi kemerdekaan Palestina.

Tak heran Kantor Berita MINA (MINA News Agency) dalam rangkaian menyambut Bulan Muharram 1443 Hijriyah/2021 Masehi memberikan “Penghargaan Muhyiddin Hamidy” kepada Pimpinan Jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia itu.
Nama Penghargaan Muhyiddin Hamidy sendiri diambil dari nama salah seorang pendiri dan pemimpin umum/pemimpin redaksi pertama Kantor Berita MINA, H. Muhyiddin Hamidy (1933-2014).

Penghargaan yang diberikan pada Festival Muharram tanggal 28 Agustus 2021 itu merupakan bentuk apresiasi dan pengakuan terhadap Imam Yakhsyallah selaku penulis paling produktif dan inspiratif di Kantor Berita MINA.

MINA yang didirikan pada 2012 itu sendiri merupakan kantor berita umum yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan menyiarkan berita dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris.

Penghargaan Muhyiddin Hamidy untuk Penulis Produktif dan Inspiratif 2021 diserahkan kepada Imaam Yakhsyallah oleh perwakilan keluarga H Muhyiddin Hamidy, yakni Ahmad Tawakkal Ramadhan dan Onny Firyanti yang didampingi oleh Pemimpin Umum Kantor Berita MINA Arief Rahman dan Pemimpin Redaksi Ismet Rauf.

Sementara itu Pemimpin Umum Kantor Berita MINA Arief Rahman mengatakan, penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi dan pengakuan terhadap karya-karya terbaik dan menginspirasi, termasuk dalam soal Palestina dari Imaam Yakhsyallah yang diterbitkan di website MINA, Minanews.net.

Protocol Zionis

Baru-baru ini, Imaam Yakhsyallah juga menulis buku berjudul “Membaca Protocol of Zion, Blueprint Zionis Untuk Menguasai Dunia”. Buku tersebut merupakan hasil pembacaan seksama penulis terhadap buku “Protocol of Zion, Blueprint Zionis Untuk Menguasai Dunia”, terjemahan Indriani Grantika dari karya Sergei A. Nilus yang berbahasa Rusia serta diterjemahkan oleh Victor E. Marsden.

Menurut Victor Marsden, buku “Protokol Zionis” itu menjadi buku kontroversial terlaris di antara buku-buku politik yang diterbitkan abad ini. Sejak kemunculannya yang pertama kali di tengah masyarakat tahun 1919, bukut tersebut telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, dan dalam edisi bahasa Inggris saja telah terjual lebih dari satu juta eksemplar.

Imam Yakhsyallah termasuk orang yang percaya dengan “kebenaran” Protokol Zionis itu, dan sebagai landasan untuk menerima atau tidak menerima kebenaran isi Protokol tersebut ia mengingatkan para pembaca dengan Firman Allah terhadap ayat-ayat Al-Quran yang menyinggung tentang kebenaran dan akal sehat.

Selaku wartawan senior saya mengapresiasi karya-karya tulis Imaam Yakhsyallah Mansur yang memang selalu “interesting, inspiring, and motivating”, termasuk dalam soal perjuangan bagi pembebasan Masjid Al-Aqsa dan kemerdekaan Palestina.

*Aat Surya Safaat adalah Ketua Bidang Luar Negeri Serikat Media Siber Indonesia (SMSI)/Kepala Biro Kantor Berita ANTARA New York 1993-1998/Direktur Pemberitaan ANTARA 2016.

Gerindra kuswandi