Pada Doyan Kopi, Tapi Tahukah Sejarah Kopi?

*) Oleh: Ilung (Sang Revolusioner)

FAKTA BANTEN – Dari suatu pengamatan budaya di berbagai daerah di Indonesia khususnya Banten, kopi sudah merupakan bagian dari kebutuhan sehari-hari khususnya bagi laki-laki. Hal ini didasari dari banyaknya warung-warung kopi di seantero negeri, bahkan kopi bisa memberi warna kehidupan. Seperti banyak memberikan layanan sebagai pusat-pusat interaksi sosial.

Bukan hanya warung kopi, namun ditengah modernitas ini bak jamur dimusim hujan, di perkotaan kini penjual kopi mulai banyak disajikan di kedai, caffe, bar kopi dan sebagainya. Dari sekadar untuk memberi kesempatan kepada anggota-anggota sosial untuk berkumpul, mencari inspirasi, berbicara, menulis, membaca, menghibur satu sama lain, atau membuang waktu, baik secara individu atau dalam komunitas atau kelompok kecil.

Namun para penikmat kopi tersebut tahukah sejarah ditemukannya kopi?
Ngopi sendiri berasal dari kata kopi dan awalan nge -, digabungkannya nge+kopi mengubah kopi sebagai kata benda menjadi kata kerja. Jadi ngopi bisa dimaknai sebagai proses kita menikmati kopi.

Menelisik soal kopi tentu kita tidak bisa lepas dari sejarah panjang tanaman tersebut. Kopi adalah tanaman perkebunan, mulai dikenal oleh Suku Gala di Afrika Timur. Yang pada awalnya buah dan daun tanaman tersebut hanya menjadi makanan kambing-kambing.

Para penggembala suku-suku disana kemudian penasaran karena kambingnya yang mengkonsusmsi kopi lebih produktif berkembang biak dan lebih sehat. Kemudian kopi mulai dikonsumsi manusia di Afrika.

Tanaman ini lantas menjelajah ke seantero dunia, bahkan kopi dianggap menjadi pemantik Revolusi Perancis dan gerakan-gerakan politis lainnya di belahan bumi Eropa.

Di Nusantara, saking populer dan menjadi komoditas ekspor kolonial Belanda kala itu, di tahun 1700-an, kopi Jawa (Arabika) berhasil ‘menguasai’ pasar kopi dunia. Hingga menginspirasi seorang programmer, dan terciptalah ‘Javascript’ dengan logo cangkir lengkap dengan kepulan asap: sang programmer, rupanya terinspirasi dengan nikmatnya kopi Java.

Di Bali, kopi juga menjadi mata dagangan selain gula, garam, babi, sebelum Abad XVI melalui kongsi dagang kerajaan Mengwi dengan pedagang-pedagang candu dari Tiongkok.

Dari gaya hidup, kopi ditafsir menjadi ikon baru yang kaya nilai. Cerita kopi lantas dihadirkan menjadi sebuah narasi besar, semacam menandai kelahiran ‘ideologi’ baru: nasionalisme gaya baru dengan slogannya ‘ stand of greatness ’. Siapapun bisa mengaku nasionalis jika mengonsumsi kopi produksi dalam negeri. Beberapa tahun terakhir, di Indonesia booming buku Filosofi Kopi diikuti pula dengan
booming film-nya yang turut mengonstruksi narasi besar kopi hari ini.

Dan akibat menulis artikel kopi sambil ngopi ini, penulis sekaligus menuliskan tafsir diri dalam secangkir kopi:

“Kopi itu pekat. Sepekat malam”

“Menjadilah tabah, tawadlu’, sakti serupa bunga kopi. Ia hanya akan mekar di waktu dan kehendak yang tepat”

“Kopi itu pahit. Tetapi nikmat. Serupa hidup. Jika pahit mampu engkau cecap utuh, maka utuhlah hidupmu”

“Kelopak bunga kopi hanya akan gugur pelan-pelan dan menjadi buah manakala rintik hujan tabah dileram cahaya mentari”

“Di kedalaman perut bumi sana, sang akar hanya akan menuju pusat. Sementara tangkup-tangkup dedaunan yang baru tumbuh, senantiasa menghadap sumber cahaya”

“Di tiap bilah biji terbelah, kita akan temukan sap-sap, lapis-lapis, bilah-bilah. Dan bermuara pada satu kandung lembaga. Titik pusat”

“Kopi itu, beda lidah beda rasa. Tapi yang otentik adalah pahit-nya”

“Kopi itu tómbó ngantuk. Tómbó ngelu, tómbó kangen”

“Kopi itu adalah kamu… Kamu adalah aku… Tatwamasi”

Tak habis-habisnya memang jika kita
menelanjangi soal kopi. Ada berbagai pergolakan, juga mencuatnya segregasi identitas soal kopi dan geliat perburuan harta karun sumber daya alam di Nusantara yang harus kita banggakan yang kaya akan tanaman kopi. Selamat Ngopi! (*)