Khidmah Paripurna di Kota Nabi: Teladan Gubernur Umar bin Abdul Aziz dalam Nadi Petugas Haji
Oleh: Ahmad Tajuddin Arafat
Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa kemasyhuran dan kesuksesan Khalifah Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah Ketujuh Daulah Umayah adalah bagian dari proses penempaan dirinya ketika ditunjuk menjadi Gubernur Madinah oleh Khalifah al-Walid bin Abdul Malik pada tahun 87 H.
Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai Gubernur Madinah kurang lebih sekitar 6 tahun yang oleh para sejarawan muslim dikenal sebagai masa keemasan Madinah di era Daulah Umayah.
Banyak sekali torehan sejarah dan legasi penting yang diwariskan oleh Umar bin Abdul Aziz selama berkhidmah menjadi pemimpin di Kota Nabi.
Di antaranya: renovasi dan perbaikan besar-besaran Masjid Nabawi dengan memasukan kamar-kamar Istri Nabi ke dalam area perluasan masjid dan membangun empat menara di setiap sudut masjid yang menjadi cikal bakal menara Masjid Nabawi yang kita lihat saat ini.
Selain merenovasi Masjid Nabawi, Gubernur Umar bin Abdul Aziz juga melestarikan ragam situs sejarah Islam yang ada di sekitar Masjid Nabawi dan Kota Madinah, misalnya membangun masjid-masjid kecil yang memiliki jejak historis di dalamnya seperti Masjid Gumamah, Masjid Abu Bakar, Masjid Umar, Masjid Ali bin Abi Thalib, Masjid Sab’ah dan Masjid Ijabah.
Gubernur Umar bin Abdul Aziz juga memperbarui tugu-tugu pembatas Tanah Haram Madinah yang saat itu sudah mulai kabur dan rusak.
Tidak hanya legasi material fisik saja yang beliau wariskan kepada kita saat ini, beliau juga menghidupkan kembali Madinah sebagai kota yang bercahaya (al-Munawwarah) akan ilmu, keadaban dan peradaban.
Dari Madinah lah, syiar awal akan kodifikasi atau pembukuan hadis-hadis Nabi dimulai dan tata kelola pemerintahan yang berbasis musyawarah dihidupkan kembali dengan di antaranya membentuk Majelis Fuqaha Sab’ah (Dewan Tujuh Ulama’) yang menjadi rujukan bagi masyarakat Madinah dalam berbagai permasalahan keagamaan yang ada.
Dengan warisan yang gemilang dan legasi yang mulia tersebut, di akhir jabatannya menjadi Gubernur Madinah, Umar bin Abdul Aziz ketika hendak meninggalkan Kota Madinah dari kejauhan beliau menangis dan berkata kepada pelayannya, Muzahim: “Wahai Muzahim, apakah kamu khawatir dan takut jikalau kita ini termasuk orang-orang yang terusir dari kota suci ini?”
Ketakutan dan kekhawatiran Umar bin Abdul Aziz kala itu tidaklah berlebihan, meski beliau telah menorehkan ragam kebaikan dan kesejahteraan bagi Madinah dan masyarakatnya.
Ketahuilah bahwa rasa takut dan khawatir yang beliau rasakan saat itu berasal dari sabda Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa “Madinah itu seperti al-kir (alat peniup/tungku api) yang dapat membersihkan karatnya besi dan mengkilapkan besi menjadi murni kembali” (HR. al-Bukhari & Muslim).
Apa yang penting bagi kita, Petugas Haji?
Pertama, ketika Umar bin Abdul Aziz mengabdi untuk Madinah, beliau menempatkan dirinya sebagai pelayan bagi Kota Nabi dan warganya, bukan sebagai penguasa yang minta dilayani dan diistimewakan.
Kedua, apa yang kita lihat dan kita rasakan saat ini di Madinah dari keindahan dan suasananya yang tenang dan menenangkan, sebenarnya kita sedang meneruskan jejak warisan pengabdian dan nilai-nilai kemanusiaan Umar bin Abdul Aziz yang tulus ikhlas dan penuh kehangatan dalam melayani Madinah dan siapapun yang hadir di dalamnya.
Ketiga, Madinah dengan cuacanya yang khas dengan panas terik yang menyengat merupakan bagian dari simbolisasi yang Rasul berikan kepada kita bahwa menjadi Petugas Haji di Madinah harus bersiap diri untuk membakar ego, rasa malas dan amarah, sehingga kita ditempa menjadi Petugas Haji yang penuh dengan kesabaran, ikhlas serta khidmah dalam pelayanan, karena Madinah tidak menerima kepalsuan diri yang penuh dengan “karat”.
Walhasil, jika sekaliber Umar bin Abdul Aziz saja menangis ketakutan jangan-jangan dirinya dinilai sebagai “karat” yang merasa “terbuang/terusir” saat harus keluar dari Madinah, bagaimana dengan kita, para Petugas Haji? Apakah kita selama ini dalam melayani jamaah haji sudah dengan ketulusan dan kemurnian atau masih saja ada karat ego, sombong dan pamrih? Jawaban dari pertanyaan ini sudah pasti ada dalam diri masing-masing petugas.
Kita semua hanya berharap bahwa keletihan dan mungkin juga kejenuhan kita selama bertugas tidak membuat kita “terusir” secara maknawi dari keberkahan kota suci ini. Kita semua berharap bahwa ketika kita telah paripurna dalam menjalankan tugas mulia ini dan akhirnya kita pulang ke tanah air, kita pulang sebagai “besi murni” yang telah selesai ditempa oleh beratnya medan pelayanan serta siap memancarkan kilau kemurnian akan iman dan rasa cinta kepada Nabi Muhammad dan Madinah di tengah-tengah masyarakat kita.
Adham Syarqawi, penulis asal Palestina, memberikan pesan kepada kita bahwa khusnul khatimah dalam sebuah perjuangan bukan hanya tentang purna tugas atau kematian di dalamnya, tetapi khusnul khatimah juga tentang bagaimana tugas itu dijalankan dengan penuh khidmah dan ketulusan. Semoga kita menjadi pribadi yang senantiasa merindukan Madinah dan dirindukan oleh Madinah.
wa Allahu a’lam bi ash-shawab. ***

