SERANG – Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Ridam Nur Aryadi mengecam adanya dugaan tindakan pelecehan seksual yang terjadi di kampusnya.
Dia juga menuntut agar pihak Untirta melakukan proses investigasi yang serius, tuntas dan transparan atas dugaan pelecehan seksual yang terjadi di kampus Pakupatan tersebut pada Rabu (1/4/2026).
“Kami meminta agar diberikan sanksi yang tegas kepada pelaku. Perlindungan maksimal bagi korban,” ujarnya.
Untirta, kata dia, perlu melakukan evaluasi dan penguatan sistem pencegahan serta penanganan kekerasan seksual di kampus.
Perlu komitmen nyata dari pihak kampus untuk menciptakan kebijakan yang berpihak pada korban serta membangun budaya akademik yang aman dan beretika.
“Kami mengajak seluruh sivitas akademika untuk bersama-sama berani bersuara dan tidak diam terhadap segala bentuk kekerasan seksual. Membangun solidaritas dan empati terhadap korban,” ujarnya.
Kecaman juga datang dari Presiden Untirta Movement Community (UMC) Ridwan.
Kejadian ini, kata dia, harus jadi refleksi bersama.
“Kejadian ini tentu menjadi refleksi kita bersama bahwa kampus seharusnya dapat menjadi ruang aman bagi semua sivitas akademika,” ujarnya.
“Pelecehan seksual merupakan tindakan yang tidak dapat diterima dalam ruang publik. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa menciptakan ruang aman merupakan tanggung jawab kolektif seluruh insan akademik,” sambungnya.
Mengenai sikap kampus, ia meminta agar Untirta tak boleh ada upaya menutupi atau meredam kasus demi menjaga citra institusi.
“Peristiwa ini bukan sekadar pelanggaran hukum, namun juga cermin dari krisis nilai yang seharusnya dapat kita jaga bersama dalam ruang akademik dan ruang publik,” tutupnya.
Sebelumnya diberitakan, salah seorang dosen di Untirta juga disebut menjadi korban dugaan pelecehan seksual yang dilakukan mahasiswa.
Mahasiswa Untirta yang tak ingin disebutkan namanya membenarkan adanya kasus tersebut.
Ia menceritakan, tindakan dugaan pelecehan seksual itu dalam bentuk tindakan mahasiswa yang merekam aktivitas pengguna toilet perempuan dengan menggunakan handphone, Rabu (1/4/2026).
“Kejadiannya sekitar jam 1 siang, ada mahasiswa yang merekam di toilet perempuan. Saat itu dosen melihat perekam dan teriak, sempat terjatuh HP si pelaku dan diambillah HP nya pelaku,” ungkap salah seorang mahasiswa.
“Bahkan dosennya sempat kena pukul oleh pelaku mahasiswa, karena HP sempat diambil oleh dosen tersebut. Korbannya diduga lebih dari satu orang. TKP kejadian di toilet gedung B Untirta Pakupatan,” sambungnya.
Saat dikonfirmasi mengenai hal ini, Humas dan Protokol Untirta, Adhitya Angga Pratama membenarkan adanya kejadian tersebut.
Pihaknya telah berkoordinasi dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK).
Namun pihaknya belum bisa memberikan keterangan lebih rinci atas dugaan tindakan tersebut.
“Saya (sudah) koordinasi dengan Satgas PPK Untirta. Di tataran universitas nanti melalui yang membidanginya, yaitu Satgas PPK,” ujarnya saat dihubungi melalui pesan singkat WhatsApp. (*/Ajo)

