Banjir Bojonegara Serang Jadi Sorotan, DR Fadlullah Serukan Evaluasi Tata Kelola Lingkungan di Banten
SERANG – Banjir yang kembali melanda wilayah Bojonegara, Kabupaten Serang, pada Ahad (8/3/2026) dini hari memunculkan keprihatinan berbagai pihak.
Salah satunya datang dari akademisi sekaligus pemerhati lingkungan, Dr. Fadlullah, yang menilai peristiwa tersebut harus menjadi momentum refleksi bagi pemerintah daerah dalam menata kembali pengelolaan lingkungan.
Dalam pernyataannya, Fadlullah menggambarkan banjir yang datang tiba-tiba saat warga tengah beristirahat setelah kegiatan ibadah Ramadhan. Air yang membawa lumpur memicu kepanikan warga dan menimbulkan kerugian materiil.
Menurutnya, bencana yang terus berulang tidak bisa hanya dilihat sebagai peristiwa alam semata.
“Banjir bukan semata karena hujan deras. Hujan adalah sunnatullah yang telah berlangsung sejak bumi diciptakan. Yang berubah adalah tata kelola kita terhadap alam,” ujarnya.
Ia pun mengajak Gubernur Banten, para pejabat provinsi, hingga Bupati Serang untuk melihat langsung kondisi lingkungan di wilayah hulu, khususnya di kawasan Gunung Santri.
Fadlullah menyebut, perubahan tutupan lahan di kawasan perbukitan menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian serius. Berkurangnya vegetasi dan menurunnya daya serap tanah membuat aliran air hujan lebih cepat menuju wilayah hilir sehingga meningkatkan potensi banjir.
“Gunung, hutan, dan aliran air adalah kitab terbuka tentang kebijakan kita. Alam tidak pernah berdusta tentang akibat dari keputusan manusia,” katanya.
Selain wilayah hulu, ia juga menyoroti kondisi pesisir di Banten yang dinilai semakin terdesak oleh berbagai proyek pembangunan dan kepentingan ekonomi. Hal tersebut, menurutnya, berdampak pada ruang hidup nelayan tradisional.
Ia menilai sejumlah pelabuhan rakyat yang dahulu menjadi tempat berlabuh perahu nelayan kini semakin terpinggirkan, sehingga menyulitkan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
“Ketika pelabuhan rakyat hilang, yang hilang bukan sekadar dermaga. Yang hilang adalah harapan dan masa depan generasi pesisir,” ungkapnya.
Fadlullah menegaskan bahwa pesisir Banten merupakan aset besar yang menyimpan potensi ekonomi dan peradaban maritim yang panjang. Oleh karena itu, pembangunan di wilayah pesisir harus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat nelayan.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian pemerintah daerah untuk meninjau ulang berbagai izin eksploitasi sumber daya alam serta memperkuat pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.
Menurutnya, langkah yang dibutuhkan bukan hanya bantuan darurat saat bencana terjadi, tetapi pembenahan serius terhadap tata kelola lingkungan secara menyeluruh.
“Izin eksploitasi harus ditinjau ulang, pengawasan diperkuat, dan fungsi ekologis gunung serta pesisir dipulihkan. Pembangunan tidak boleh berdiri di atas kerusakan yang dibayar mahal oleh rakyat kecil,” tegasnya.
Di akhir pesannya, Fadlullah mengingatkan bahwa alam Banten sedang memberi peringatan melalui berbagai peristiwa bencana yang terjadi.
Ia berharap para pemimpin daerah dapat melihat kondisi tersebut sebagai panggilan untuk menjaga keseimbangan alam, sehingga gunung tetap hijau, sungai tetap hidup, dan laut tetap menjadi ruang penghidupan bagi masyarakat pesisir di masa depan. ***

