Wisata Anyer

Bank Sampah di Bojonegara Sulap Limbah Plastik dan Minyak Jelantah Jadi Rupiah

PLN Banten HUT Bhayangkara

SERANG – Bank Sampah Masigit Asri Tanpa Sampah (Mata) di Kampung Masigit, Desa Margagiri, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, berhasil mengubah sampah menjadi produk bernilai ekonomi.

Melalui inovasi daur ulang, kelompok ini memproduksi sofa berbahan ecobrick dari sampah botol plastik serta lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah.

Ketua Bank Sampah Mata, Amaliyah Solihah, mengatakan bank sampah tersebut mulai dikelola pada 2023 dan kemudian memperoleh Surat Keputusan (SK) dari Pemerintah Desa Margagiri sebagai bentuk legalitas kelembagaan.

“Pada awalnya kami hanya mengumpulkan sampah dari warga Kampung Masigit. Seiring berjalannya waktu, sampah yang kami terima tidak hanya berasal dari warga Masigit, tetapi juga dari wilayah sekitar. Dari situ kami mulai mengembangkan pengolahan sampah menjadi berbagai produk, seperti ecobrick dan sofa ecobrick,” ujar Amaliyah, saat ditemui Kamis (2/7/2026).

Selain memanfaatkan sampah plastik, pihaknya juga mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi dengan berbagai pilihan aroma.

“Awalnya satu liter minyak jelantah hanya menghasilkan sekitar 30 hingga 35 lilin ukuran kecil. Sekarang penjualannya sudah mencapai 100 hingga 150 pieces dengan harga 15 ribu ada sejumlah varian aroma, di antaranya melati, lavender, coffee, lily, dan vanila,” katanya.

Lebih lanjut Amaliyah menjelaskan, kapasitas produksi sofa ecobrick juga terus meningkat. Pada awal produksi, kelompoknya hanya mampu membuat satu hingga tiga unit sofa setiap bulan. Kini, jumlah produksi meningkat menjadi sekitar 10 unit per bulan.

Untuk pemasaran, sofa ecobrick tersedia dalam dua ukuran dengan pilihan bahan pelapis kulit Oscar dan premium.

Sofa berdiameter 40 sentimeter dibanderol Rp250 ribu menggunakan kulit Oscar dan Rp300 ribu menggunakan kulit premium. Sementara sofa berdiameter 50 sentimeter dipasarkan dengan harga Rp500 ribu.

Ia menambahkan, kegiatan daur ulang tersebut tidak hanya memberikan nilai tambah terhadap sampah, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Dalam proses produksi turut melibatkan warga setempat, mulai dari pembuatan hingga tahap akhir (finishing), dan mendapatkan upah sesuai pekerjaan yang dilakukan.

“Selama sekitar tiga setengah tahun berjalan, masyarakat masih aktif dan antusias mengikuti kegiatan bank sampah. Kami berharap ke depan program ini terus berkembang sehingga manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat sekaligus membantu mengurangi volume sampah di lingkungan,” pungkasnya.***

PT PCM HUT Bhayangkara
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien