Diduga Ada Tekanan Internal, Mahasiswa UNBAJA Soroti Pembatasan Aktivitas Kampus

 

SERANG – Situasi internal Universitas Banten Jaya (UNBAJA), salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Serang, tengah menjadi sorotan.

Sejumlah mahasiswa mengaku kecewa terhadap dugaan pembatasan aktivitas yang mereka nilai kontraproduktif dengan semangat akademik dan kebebasan berekspresi.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa kampus diduga melarang kegiatan sosial eksternal yang digagas oleh sekelompok mahasiswa secara mandiri.

Padahal, menurut keterangan pihak panitia, kegiatan tersebut disusun tanpa anggaran dari institusi, dengan tujuan membawa nama baik kampus sekaligus mendukung promosi penerimaan mahasiswa baru.

“Rencana acara ini murni inisiatif kami, dan tidak menggunakan dana kampus sama sekali. Tujuannya positif, tapi justru mendapat penolakan,” ungkap Ari Purwanto, yang disebut sebagai ketua pelaksana kegiatan, Kamis, (1/5/2025).

Ari menilai respons kampus terhadap rencana tersebut sebagai langkah yang tidak proporsional.

Ia mengaku kecewa lantaran aktivitas mahasiswa yang mengarah pada pengembangan karakter dan penguatan citra kampus justru diduga ditanggapi dengan pembungkaman serta ancaman akademik.

“Kalau benar ada ancaman seperti pencabutan beasiswa atau dikeluarkan dari kampus hanya karena kegiatan seperti ini, tentu itu mencederai semangat kemerdekaan berpikir dan berorganisasi yang seharusnya dijunjung tinggi di lingkungan pendidikan,” ujarnya.

Mahasiswa lain, Geri Wijaya, turut angkat bicara dan menilai bahwa jika benar terjadi pembatasan hak mahasiswa untuk menyampaikan pendapat atau berkegiatan secara terbuka, maka hal tersebut bertentangan dengan semangat UUD 1945 dan UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

“Pasal 28E UUD 1945 secara jelas memberikan ruang bagi warga negara, termasuk mahasiswa, untuk berkumpul dan menyuarakan gagasan. Jika memang ada pembatasan terhadap itu di ranah kampus, ini patut dipertanyakan,” kata Geri.

Ia juga menyoroti dugaan kurangnya dukungan terhadap organisasi kemahasiswaan (Ormawa) dalam hal pendanaan kegiatan.

Menurutnya, ketidakhadiran dukungan tersebut bisa menghambat dinamika organisasi dan kreativitas mahasiswa di UNBAJA.

“Jika benar ada intervensi berlebihan dan tidak adanya alokasi dana untuk Ormawa, itu tentu sangat berpengaruh terhadap perkembangan kapasitas mahasiswa dan atmosfer kampus secara keseluruhan,” tambahnya.

Hingga berita ini ditulis, wartawan masih berusaha untuk mengkonfirmasi pihak kampus UNBAJA belum memberikan keterangan resmi dugaan tersebut.

Mahasiswa berharap pihak rektorat dapat membuka ruang dialog dan mencari solusi bersama, demi menciptakan iklim akademik yang sehat, terbuka, dan inklusif. (*/Sahrul).

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien