Wisata Anyer

Keju Susu Kerbau dengan Royal Jelly Madu Baduy, Inovasi Untirta Dorong Peluang Usaha Warga Pageragung Serang

DPRD Kota Serang Maulid Nabi

SERANG — Potensi pangan lokal tidak hanya dapat dikembangkan menjadi produk bernilai gizi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Gagasan tersebut menjadi salah satu fokus kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), yang dilaksanakan di Kampung Cibadak RT 10 RW 03, Kelurahan Pageragung, Kecamatan Walantaka, Kota Serang, pada Sabtu (22/8/2026).

Dalam kegiatan tersebut, tim dosen dan mahasiswa Untirta memberikan pelatihan pengolahan susu kerbau Banten menjadi keju dengan penambahan royal jelly madu Baduy.

Inovasi ini dikembangkan sebagai salah satu upaya meningkatkan nilai tambah dua sumber daya lokal Banten yang selama ini masih memiliki ruang besar untuk dikembangkan.

Kegiatan pengabdian dipimpin oleh Ulfa Nurrofingah, S.Pt., M.Si., bersama tim dosen Program Studi Peternakan Untirta dan mahasiswa.

Sekitar 15 warga mengikuti rangkaian kegiatan yang mencakup penyuluhan, pengenalan potensi produk, hingga cara memasarkan produk keju tersebut.

Ketua tim pengabdian, Ulfa Nurrofingah, menjelaskan bahwa susu kerbau tidak harus dipasarkan atau dikonsumsi hanya dalam bentuk segar.

Melalui proses pengolahan, susu dapat ditransformasikan menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi dan karakteristik yang lebih menarik bagi konsumen.

“Susu kerbau tidak harus dipasarkan atau dikonsumsi hanya dalam bentuk segar. Melalui proses pengolahan, susu dapat ditransformasikan menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi dan karakteristik yang lebih menarik bagi konsumen,” ujar Ulfa.

Warga terlihat sangat antusias. Bahkan, beberapa di antaranya mulai membicarakan kemungkinan pembentukan kelompok usaha yang dapat memproduksi keju secara bersama-sama.

Salah satu perwakilan warga setempat, Saman, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan wawasan baru bagi ibu-ibu di lingkungannya. Kemudahan memperoleh bahan serta penggunaan peralatan yang tersedia di rumah membuat produk tersebut dinilai cukup realistis untuk dikembangkan sebagai kegiatan produktif skala rumah tangga.

“Kegiatan ini memberikan wawasan baru bagi ibu-ibu di lingkungan kami. Bahannya mudah diperoleh dan peralatannya juga bisa menggunakan yang tersedia di rumah, sehingga cukup memungkinkan untuk dikembangkan sebagai kegiatan produktif,” kata Saman.

Peluang inilah yang ingin diperkuat oleh tim Untirta. Inovasi produk tidak diarahkan berhenti pada demonstrasi teknologi, tetapi diharapkan berkembang menuju aktivitas ekonomi yang mampu memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga.

Pelatihan tidak berhenti pada keterampilan membuat produk. Ibu-ibu peserta juga dibimbing untuk memahami sisi usaha sejak awal, mulai dari mencari dan memilih bahan baku yang mudah diperoleh, mencatat kebutuhan produksi, menghitung modal, hingga menyusun harga pokok produksi (HPP).

Disperindag Maulid Nabi

Dari perhitungan tersebut, peserta belajar menentukan harga jual yang tidak sekadar mengikuti perkiraan, tetapi mempertimbangkan seluruh biaya yang dikeluarkan dan margin keuntungan yang ingin diperoleh.

Dengan cara ini, produk keju dapat dikembangkan sebagai usaha yang lebih terencana dan tetap memberikan keuntungan bagi pelaku usaha rumah tangga.

Aspek pemasaran turut menjadi bagian penting dalam pelatihan. Peserta diperkenalkan pada cara membuat akun penjualan di platform Shopee, menampilkan produk, menuliskan informasi produk secara menarik, serta memanfaatkan telepon pintar sebagai perangkat utama untuk menerima pesanan dan berkomunikasi dengan calon pembeli.

Tim juga menjelaskan alternatif pemasaran secara luring, termasuk mekanisme menitipkan produk di toko oleh-oleh khas Banten.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa kegiatan usaha dapat dijalankan secara fleksibel dari rumah. Ibu-ibu tetap dapat mengelola penjualan melalui telepon genggam sambil menjalankan aktivitas domestik dan mengasuh anak.

Model pemberdayaan tersebut sejalan dengan prinsip GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion), yaitu pendekatan pembangunan yang mendorong kesetaraan gender, keterlibatan penyandang disabilitas, dan inklusi sosial agar manfaat suatu program dapat diakses secara lebih adil oleh berbagai kelompok masyarakat.

Dalam konteks kegiatan ini, dukungan GEDSI terutama terlihat pada penguatan kesetaraan gender dan inklusi sosial melalui peningkatan literasi usaha dan digital bagi ibu rumah tangga, pembukaan akses terhadap peluang pendapatan, serta penyediaan model usaha yang fleksibel dan dapat dilakukan dari rumah.

Ke depan, prinsip GEDSI dapat diperkuat lebih lanjut dengan memastikan materi, metode pelatihan, dan sarana digital juga aksesibel bagi peserta dengan kebutuhan yang beragam, termasuk penyandang disabilitas.

Selain praktik produksi, peserta juga mendapat kesempatan mencicipi berbagai makanan yang menggunakan keju hasil pelatihan.

Produk mendapat respons positif dari peserta maupun anak-anak yang hadir. Karakter rasa yang khas menjadi salah satu aspek yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut untuk membedakan produk dengan keju yang telah tersedia di pasar.

Ke depan, pendampingan masyarakat menjadi bagian penting dari keberlanjutan program. Tim Program Studi Peternakan Untirta menyatakan siap membantu apabila warga membutuhkan konsultasi mengenai proses pembuatan maupun pengembangan pemasaran produk.

Dengan pendampingan yang berkelanjutan, keju berbahan susu kerbau dan madu Baduy diharapkan tidak sekadar menjadi hasil pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi produk usaha rumahan yang memiliki identitas lokal yang kuat.

Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bahwa hilirisasi komoditas peternakan dapat dimulai dari teknologi sederhana yang dekat dengan masyarakat.

Ketika inovasi dapat diterapkan dengan sumber daya yang tersedia secara lokal, peluang adopsinya pun menjadi lebih besar.

Melalui pengembangan produk keju susu kerbau dengan madu dan royal jelly Baduy, Program Studi Peternakan Untirta berharap potensi lokal Banten semakin dikenal, memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, serta mampu menjadi sumber kegiatan produktif baru bagi masyarakat Pageragung.***

HUT RI Pramuka Sankyu
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien