Pemkab Serang Dorong Pengembangan Jagung Kering di Lahan Tidur dan Tanah Desa
SERANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian terus mendorong pengembangan tanaman jagung kering sebagai salah satu komoditas unggulan selain padi.
Hingga saat ini, terdapat sekitar 3.000 hektar lahan di Kabupaten Serang yang telah dimanfaatkan untuk budidaya jagung kering.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Serang, Yuli Saputra, mengatakan bahwa pengembangan jagung kering memiliki potensi besar untuk menopang sektor pertanian dan perekonomian masyarakat.
“Tanaman unggulan kita itu padi dan jagung. Untuk jagung, yang dikembangkan adalah jenis jagung kering. Saat ini ada sekitar 3.000 hektar lahan yang sudah ditanami. Ke depan, kami berharap ada dukungan dari pemerintah pusat, termasuk melalui kerja sama dengan Polri, agar minat masyarakat meningkat dan luas tanam bertambah,” ujarnya kepada wartawan, Senin (16/6/2025).
Lahan pengembangan jagung tersebar di sejumlah kecamatan, seperti Pamarayan, Jawilan, Kopo, Cikande, Anyer, Cinangka, Bojonegara, dan Puloampel.
Lebih lanjut, Yuli menjelaskan bahwa pihaknya juga bekerja sama dengan jajaran kepolisian untuk memanfaatkan lahan tidur di wilayah hukum Polres Serang Kota.
Setiap Polsek di wilayah tersebut direncanakan mengelola dua hektar lahan untuk pengembangan jagung kering.
“Itu hasil koordinasi dengan teman-teman dari Polres Serang Kota. Lahan-lahan yang akan digunakan adalah lahan tidur, tanah bengkok desa, atau lahan milik petani yang berminat,” jelasnya.
Saat ini, tim sudah mulai meregistrasi lahan-lahan tersebut dan menyiapkan pelaksanaan tanam.

Pemkab Serang juga tengah berupaya untuk mendapatkan bantuan benih dari pemerintah pusat. Selain itu, koordinasi dengan industri pakan ternak telah dilakukan.
Menurut Yuli, potensi pasar jagung kering di Kabupaten Serang sangat besar.
Terdapat sembilan pabrik pakan ternak di wilayah tersebut yang membutuhkan pasokan hingga 2 juta ton jagung kering per tahun.
Namun, kontribusi petani lokal saat ini belum mencapai 10 persen dari kebutuhan tersebut.
“Produksi jagung kering kita rata-rata 6-7 ton per hektar. Kalau luas tanamnya bertambah, otomatis supply ke pabrik juga akan meningkat,” katanya.
Ia menambahkan, saat ini terdapat sekitar 400 hektar lahan yang tengah digarap petani, dengan potensi tambahan sekitar 300 hektar di wilayah Langgeng Sahabat Cikande.
Lahan tersebut milik perusahaan, dan akan dimanfaatkan bersama kepolisian untuk kepentingan pertanian masyarakat.
“Model pemanfaatannya bukan disewa, hanya digunakan untuk pertanian, selama tidak mengubah status aset milik perusahaan,” imbuhnya.
Selain jagung, Pemkab Serang juga menargetkan produksi padi sebesar 456.000 ton pada tahun 2025.
Dengan bertambahnya luas tanam jagung, diharapkan kontribusi sektor pertanian terhadap ketahanan pangan daerah semakin meningkat.
Yuli juga menyebut bahwa karakter petani di wilayah seperti Jawilan mulai berubah, karena sudah merasakan manfaat dari bertani jagung kering yang memiliki kepastian pasar dan nilai ekonomi tinggi. (*/Fachrul)


