Gandeng KPAI, SMPIT Asy-Syukriyyah Tangerang Bekali Siswa Cegah Bullying

 

TANGERANG – SMPIT Asy-Syukriyyah menggelar seminar Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema “Stop Bullying, Be a Buddy Not a Bully” di Aula SMPIT Asy-Syukriyyah, Tangerang, Selasa (21/1/2025)

Seminar ini diikuti oleh 136 siswa kelas 7 dan menghadirkan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Drs. Kawiyan, M.I.Kom., sebagai pembicara.

Tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang bahaya bullying dan mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih aman dan ramah anak.

Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SMPIT Asy-Syukriyyah, Maryono, M.Pd., menekankan pentingnya menanamkan kesadaran sejak dini tentang dampak buruk bullying.

Ia mengingatkan bahwa bullying, dalam bentuk apa pun, dapat menyebabkan luka psikologis yang mendalam baik bagi korban maupun pelaku.

“Karena itu, diperlukan kerja sama seluruh warga sekolah untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan,” ujarnya.

Maryono juga menegaskan bahwa sekolah harus menjadi rumah kedua bagi siswa, tempat di mana mereka merasa diterima dan aman untuk menjadi diri sendiri.

“Dengan lingkungan yang mendukung dan penuh rasa hormat, siswa diharapkan dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan berkarakter, serta mampu mengembangkan potensi terbaik mereka,” lanjutnya.

Sementara itu, pembicara acara seminar ini, Kawiyan menjelaskan bahwa bullying adalah tindakan yang merugikan, baik bagi korban maupun lingkungan sekolah.

PWI Peduli

“Bentuk bullying, mulai dari verbal seperti hinaan, hingga fisik seperti kekerasan yang bisa menyebabkan cedera,” ujarnya.

Ia juga menyoroti cyber bullying, yang kini semakin banyak terjadi di media sosial dan bisa berdampak serius pada kesehatan mental korban.

Selain membahas bentuk-bentuk bullying, Kawiyan menjelaskan dampak negatif yang bisa ditimbulkan, seperti gangguan emosional (stres dan depresi), masalah fisik (cedera dan gangguan tidur), serta penurunan rasa percaya diri dan prestasi belajar.

Ia menekankan bahwa bullying sering terjadi karena keinginan untuk menunjukkan kekuatan, pengaruh dari teman sebaya, atau persaingan yang tidak sehat.

Sebagai langkah pencegahan, Kawiyan mengajak siswa untuk saling menghormati, meminta maaf jika bersalah, dan bijak dalam menggunakan media sosial.

Ia juga menekankan pentingnya peran guru dan sekolah dalam menangani setiap kasus bullying, serta mendorong siswa untuk melaporkan jika mereka atau teman-teman mereka mengalami bullying.

Kawiyan menambahkan bahwa kasus bullying yang melibatkan anak-anak harus diselesaikan dengan pendekatan keadilan restoratif.

Pendekatan ini bertujuan agar pelaku menyadari kesalahannya dan bersama-sama mencari solusi yang baik, sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak dan Sistem Peradilan Pidana Anak.

Seminar ini mendapat sambutan antusias dari para siswa yang bersemangat mengikuti setiap penjelasan.

Diharapkan setelah seminar ini, siswa dapat lebih memahami pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, serta menjadi agen perubahan yang mempromosikan sikap saling menghargai di sekolah. (*/Red)

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien