Sejarah Kota Tangerang: Dari Benteng hingga Menjadi Kota Metropolitan

 

FAKTA – Kota Tangerang memiliki sejarah panjang yang dipengaruhi oleh perkembangan politik, ekonomi, dan sosial sejak masa Kesultanan Banten hingga saat ini.

Seiring berjalannya waktu, Tangerang telah berkembang menjadi kota metropolitan yang memiliki peran penting dalam wilayah Jabodetabek.

Berikut ini adalah perjalanan sejarah Kota Tangerang yang menarik untuk disimak.

1. Pertengahan Abad XV: Tiga Aria dan Benteng Pertahanan

Pada pertengahan abad XV, di tengah-tengah masa kolonialisme Belanda, Sultan Banten mengangkat tiga Maulana atau Tiga Aria yang berasal dari Kerajaan Sumedang Larang.

Mereka adalah Yudhanegara, Wangsakara, dan Santika, yang ditugaskan untuk memperkuat ekonomi Kesultanan Banten dengan melawan praktik monopoli yang diterapkan oleh VOC.

Untuk melaksanakan tugas tersebut, ketiga Maulana ini membangun sebuah benteng pertahanan yang dikenal dengan nama “Benteng” atau “Bentengan” oleh masyarakat setempat.

Saat ini, sisa-sisa benteng tersebut dapat ditemukan di beberapa titik yang kini terendam di bawah permukaan air Sungai Cisadane yang semakin melebar.

2. 1654 M: “Tanggeran” – Bangunan Penanda Wilayah

Nama “Tangerang” berasal dari sebuah tugu yang dibangun pada tahun 1654 M oleh Pangeran Soegiri, putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten.

Tugu ini memiliki tinggi sekitar 2,5 meter dan terletak sekitar 500 meter dari tepi barat Sungai Cisadane, tepatnya di Gardu Gede yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Gerendeng.

Tugu ini berfungsi sebagai pembatas atau penanda wilayah antara Kesultanan Banten di sebelah barat Sungai Cisadane dan wilayah yang dikuasai oleh VOC di sebelah timur. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan nama “Tetengger” atau “Tanggeran” yang bermakna penanda wilayah.

3. Pasca 17 April 1684: Perubahan Nama dari “Tanggeran” Menjadi “Tangerang”

Pada 17 April 1684, perjanjian antara VOC dan Kesultanan Banten menandai perubahan besar bagi wilayah “Tanggeran”. Setelah VOC berhasil menguasai wilayah tersebut, tentara Belanda yang berasal dari Makassar mulai berdomisili di sekitar benteng.

Mereka yang tidak terbiasa dengan ejaan huruf mati, menyebut “Tanggeran” dengan sebutan “Tangerang”. Pengucapan ini kemudian menjadi kebiasaan yang terus digunakan dan akhirnya diterima hingga saat ini.

4. 1981-1993: Tangerang yang Berkembang Pesat

Pada periode 1981 hingga 1993, Tangerang yang masih berbentuk Kabupaten Daerah Tingkat II mulai mengalami perkembangan pesat.

Letaknya yang berbatasan langsung dengan ibu kota Jakarta menjadikannya pusat kegiatan ekonomi, industri, perdagangan, dan sosial budaya.
Tangerang menjadi daerah yang menarik perhatian untuk dijadikan pusat pemerintahan dan perekonomian.

Pada 28 Februari 1981, Pemerintah Indonesia mengesahkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 1981 tentang Pembentukan Kota Administratif Tangerang.

Walikota pertama Kota Administratif Tangerang adalah:

1. 1982-1986:  Karso Permana, BA
2. 1986-1990:  Drs. H. Yitno
3. 1990-1993:  Drs. H. Djakaria Machmud
5. 1987-1993: Dari Kabupaten ke Kotamadya

Tangerang, yang sebelumnya merupakan Kabupaten Daerah Tingkat II, terus berkembang dalam segala bidang.

Pada 1 Juni 1987, wilayah ini memulai proses panjang yang mengarah pada pembentukan Kota Tangerang yang baru.

Setelah lebih dari lima tahun, pada 28 Februari 1993, Tangerang secara resmi menjadi Daerah Otonom Ke-25 di Jawa Barat dan Ke-312 di Indonesia.

Proses ini dilaksanakan dengan pengesahan oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Jendral TNI (Purn) Rudini, yang juga melantik Bapak Drs. H. Djakaria Machmud sebagai Walikota pertama Kota Tangerang. ***

Karang Taruna Gerem
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien