Diusir Anak, Nenek di Cilegon Ini Sudah 3 Tahun Tinggal di Kebun Sendirian

CILEGON DAERAH HEADLINE

CILEGON – Malang benar nasib Nenek Jesati (70) warga Link Bader RT 01 RW 05, Kelurahan Deringo, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon ini. Di masa senjanya ia harus tinggal di gubuk dengan ukuran 1,5 X 1,5 meter yang berada di tengah-tengah kebun, lantaran diusir anak kandungnya sendiri.

Di usianya yang renta, seharusnya benek Jesati bisa menikmati masa tuanya berkumpul dengan cucu-cucunya, namun apa daya karena persoalan sering cekcok dengan mantu perempuannya, akhirnya nenek Jesati diusir dari rumah anaknya sendiri.

Dari cerita tetangganya, Nenek Jesati menempati gubuk yang terbuat dari papan yang dibangun oleh warga.

Sudah hampir tiga tahun, nenek ini tinggal di bale bambu beralaskan matras dan penerangan seadanya.

“Sudah hampir tiga tahun Nenek Jesati tinggal di gubuk itu kang, kasian sih, tapi apa daya saya tidak bisa berbuat banyak dan untuk makan setiap hari dari belas kasihan warga,” ucap salah seorang tetangga, Sabtu (17/3/2018).

Terkadang sesekali anak kandungnya yang perempuan yang bertempat di Sambi Regak datang dan memberinya makan.

“Nenek Jesati mempunyai anak dua, satu yang di Deringo dan satu lagi di Sambi Regak, yang sangat perhatian hanya anak perempuannya sedangkan dari anak lelakinya dari dulu tidak pernah mengurus dan memberinya makan,” ungkap tetangganya lagi.

Ditemui di gubuknya, Fakta Banten coba mengorek cerita dari Nenek Jesati. Saat ditanya, nenek bercerita tentang hubungan dengan mantunya itu tidak harmonis, ditambah anak lelakinya takut sama istrinya sehingga akhirnya ia diusir dan menempati gubuk di tengah kebun ini.

“Saya juga binggung salah apa saya, hingga mereka tega membiarkan saya tinggal di gubuk ini,” ucap nenek Jesati dengan mata berkaca – kaca.

Sementara itu Hasbunah selaku Ketua RT mengatakan, Nenek Jesati sudah menempati gubuk tersebut sudah hampir tiga tahun.

“Kalau masalahnya saya kurang tahu, namun dari cerita yang berkembang Nenek Jesati hubungan dengan mantu perempuannya kurang harmonis sehingga diusir oleh mantunya,” ujar Hasbunah.

Lebih lanjut dikatakan Hasbunah, masalah ini sering disampaikan ke Kelurahan agar Nenek Jesati mendapat perhatian dari aparatur kelurahan, tapi sayang usulannya selalu dianggap angin lalu, dan seakan akan aparatur kelurahan tidak mau menggubris padahal gubuk nenek Jesati hanya berjarak 5 meter dari kantor kelurahan.

“Keluhan sering saya sampaikan ke pihak Kelurahan untuk mencari solusi tapi sampai sekarang keluhan ini tidak pernah didengar dan saya harus berbuat apa, saya bingung kang,” keluh Hasbunah. (*/Adam RT)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *