Rawan Tsunami Megathrust, FPRB Pandeglang Turun Langsung ke Desa Rancapinang

PANDEGLANG – Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Kabupaten Pandeglang turun langsung melakukan pendataan ke daerah yang rawan terdampak bencana Tsunami Megathrust yakni Desa Rancapinang Kecamatan Cimanggu, Minggu (28/08/2022).
Kegiatan dilakukan untuk melakukan pendataan kampung dan jumlah warga yang terancam bencana tsunami.
Ketua FPRB Pandeglang Mulyadi mengatakan kabupaten Pandeglang memiliki wilayah yang cukup luas begitu juga dengan daerah pesisirnya.
Oleh karena itu selain beberapa wilayah yang sudah sering dijangkau oleh semua pihak, ia dan timnya turun ke sejumlah pelosok desa yang rawan terdampak bencana tsunami.
“Untuk awal kami melakukan pendataan mulai dari letak wilayah, jumlah penduduk dan seberapa besar ancaman pada masayarakat, khsusunya untuk warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, kegiatan ini dilakukan baru pertama kali dilakukan oleh FPRB setelah nanti ini dilakukan bisa dilakukan langkah kedua dan seterusnya untuk bagimana meningkatkan kapasitas atau kemampuan untuk warga lokal dalam menghadapi bencana alam khususnya Tsunami.
“Data hasil yang diambil hari ini akan dijadikan bahan oleh kami FPRB dalam melakukan kajian pengurangan resiko bencana. Sehingga kedepan jika ada bencana kami sebagai relawan dan pemerintah sudah memiliki data untuk melakukan penanganannya,” ungkap Mulyadi yang juga ketua MA Care itu.
Herawati, Sekertaris FPRB Pandeglang menjelaskan kegiatan ini dilakukan tidak lain bagian dari ikhtiar penanganan bencana yang ada di wilayah Pandeglang. Karena dalam penanganan bencana itu ada tiga langkah yang bisa dilakukan yakni, sebelum bencana, saat bencana dan paska bencana.
“Hari ini kita melakukan asesmen wilayah Desa Rancapinang untuk meningkatkan kapasitas penduduknya dalam menghadapi bencana. Bencana memang ketentuan dari Tuhan namun sebagai manusia kita bisa mengurangi resiko-resikonya,” ujarnya.
Ia menambahkan, ada beberapa hal yang didapat dari hasil kegiatan FPRB yang langsung wawancara dengan sejumlah warga terkait penanganan bencana.
Pertama belum pernah ada pelatihan terkait penanganan bencana, adanya ketidak tahuan dengan pemasangan rambu-rambu dari Badan Penanggulangan Bencana, warga menyebut rabu-rabu dipasang kurang tepat terakhir tahu ancaman bencana tapi pasrah.
“Itu baru beberapa hasil yang kami dapat, dari tiga kampung yakni Rancecet, Cegog dan Air jeruk. Data lainya nanti kami akan kami kaji bersama dan dijadikan bahan peningkatan kemampuan warga setempat,”terangnya. (*/Gus)

